Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2012 @ majalahbuser.com
Pekanbaru - Penyisihan Grup A cabor sepak bola PON 2012, yang sedianya mempertemukan Sulawesi Tenggara kontra Jambi, Kamis (6/9/12), di Stadion Rengat, Kabupaten Senggiri, batal digelar berhubung tak ada wasit.
Jum'at, 07 September 2012

Laga Batal Digelar
Kisruh PSSI Kacaukan PON
Hal itu tentu saja akan berdampak pada kelangsungan turnamen secara keseluruhan dan merusak citra ajang akbar empat tahunan level nasional ini.

Disinyalir, kekacauan itu ada campur tangan pihak PSSI yang diketuai Djohar Arifin Husin, yang melarang wasit untuk memimpin pertandingan.

"Padahal, sebelumnya mereka, perangkat pertandingan itu sempat memasuki lapangan untuk mengecek kesiapan," kata salah satu ofisial tim Jambi, Bujang Nasril, melalui sambungan telepon.

"Yang kami dengar, kabarnya mereka tidak diperbolehkan memimpin pertandingan oleh PSSI pusat. Lebih jelasnya, tanya PB PON saja," lanjutnya lagi.

Kecewa timnya tak bisa berlaga, Bujang menyerahkan permasalahan ini untuk segera diselesaikan oleh KONI.

"Kita lagi menunggu keputusan seperti apanya dari KONI pusat. Karena, itu adalah wewenang KONI yang menaungi seluruh cabang olah raga yang bertanding di PON," tegasnya.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Bidang Keorganisasian PB PON, Satar membenarkan apa yang dikatakan oleh Bujang Nasril. Bahkan, Satar memperkuat bahwa kesalahan tersebut diakibatkan karena terkait politik sepakbola lokal dan di tingkat nasional.

"Jadi, akar permasalahanya adalah keputusan BAORI (Badan Arbitrase Olahraga Republik Indonesia) yang memenangkan Jambi tidak diakui oleh PSSI dengan alasan PSSI tidak mengakui kenberadaan BAORI," tegasnya.

Bukan hanya itu, Satar menuduh PSSI telah menekan wasit yang akan memimpin pertandingan tersebut. Padahal, Satar berpendapat wasit yang sedang bertugas di PON adalah tanggungjawab PB PON.

"Kita lagi menunggu keputusan seperti apanya dari KONI pusat. Karena, itu adalah wewenang KONI yang menaungi seluruh cabor yang bertanding di PON," tandasnya.

Dualisme tim daerah muncul sebagai dampak kisruh organisasi sepak bola Indonesia di tingkat nasional. PSSI versi Djohar Arifn Husin dan La Nyalla Mattalitti masing-masing membentuk sendiri tim daerah lewat pengurus provinsi, yang juga terbelah. Sebelumnya BAORI sudah menunjuk perwakilan kubu La Nyalla sebagai yang sah, dan diperkuat oleh keputusan PB PON dan KONI Pusat, namun keputusan tidak bisa diterima kubu Djohar. [inilah]
      Berita Nasional :

      Berita Daerah  :