Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 – 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 – 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2012 @ majalahbuser.com
Jakarta - Sekitar 3.000-an warga Jabodetabek jadi korban penipuan paket arisan Lebaran. Total kerugian yang dialami warga diduga mencapai miliaran rupiah.

"Total uang dari seluruh warga kurang lebih Rp 4 miliar bahkan lebih," ujar salah satu koordinator arisan, Fauzi, di Polres Jakarta Pusat, Rabu (15/8). Fauzi mengaku sudah tujuh tahun lebih dia mengikuti arisan Lebaran seperti ini.
Kamis, 16 Agustus 2012

Ribuan Orang Tertipu Arisan Lebaran Senilai Rp 4 M
Entah kenapa baru kali ini warga dibohongi pengelola arisan. "Biasanya selama tujuh taun selalu dapet tapi tahun ini bermasalah. Tapi tahun ini, hingga jelang lebaran paket yang kita tunggu-tunggu malah nggak ada," keluhnya.

Fauzi menjelaskan soal sistem kerja arisan lebaran yang dia ikuti selama ini. Arisan itu dimainkan secara tunggal oleh seorang warga bernama Suparjo. Suparjo yang memegang uang dan yang mengurusi semua paket lebaran itu. Paket Lebaran itu terdiri berbagai macam jenis nilainya, ada yang Rp 500, Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 2.500 dan Rp 5.000. "Semuanya dibayar per hari selama 330 hari," jelasnya. Menurut Fauzi, selama enam tahun terakhir, arisan yang dia ikuti itu tidak bermasalah. Suparjo selalu tepat janji.

Zulkarnain yang juga menjadi korban arisan miliaran ini mengatakan, sepengetahuannya Suparjo kali ini diajak temannya bermain vallas di sebuah perusahaan. Dia menduga hal itulah yang menjadi penyebab pembayaran arisan tahun ini menunggak. "Pengakuan dia, awalnya sempat untung, mungkin dia tergiur eh akhirnya dia nggak gol jadinya hangus uangnya," terangnya.

Mengapa warga tertipu arisan lebaran Suparjo?

Suparjo, tersangka penipuan investasi berkedok arisan Lebaran akhirnya menyerahkan diri ke kepolisian. Bisnis yang merugikan sekitar 3.000-an warga ini sudah hampir tujuh tahun digelutinya. Kenapa bisa begitu banyak warga yang tertipu oleh bisnis Suparjo? Berdasarkan penuturan Fauzi yang menjadi salah satu korban, bisnis invetasi yang dikelola Suparjo menerapkan sistem multi lavel marketing (MLM). Selama enam tahun, arisan berjalan dengan baik. Karena itu pengikut arisan ini terus bertambah.

"Jadi satu orang diberikan target harus bisa ajak berapa orang. Kalau berhasil maka dia akan mendapatkan paket. Semakin banyak yang berhasil diajak masuk arisan, maka paket yang didapatkannya semakin banyak," kata Fauzi, saat ditemui di Polres Jakarta Pusat, Rabu (15/8). Fauzi menambahkan, dari 3.000 ribuan peserta itu terdapat 65 orang koordinator dengan jumlah anggota yang berbeda-beda. Bahkan satu orang koordinator biasanya bisa memiliki 500 anggota. Setiap anggota yang ikut arisan wajib menyetor uang setiap hari selama 330 hari. Nominalnya tergantung pada paket yang ingin dia dapatkan. Besar setoran mulai dari Rp 500, Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 2.500 dan Rp 5.000.

"Nanti mereka tinggal pilih, mau langsung bayar untuk seminggu atau untuk sebulan. Warga juga terserah mau milih nyetor berapa," tambahnya. Dari hasil tabungannya, warga bisa mendapatkan paket daging dan sembako. Sedangkan yang menambung Rp 5.000 selain mendapatkan paket daging dan sembako juga mendapatkan uang tunai Rp 1 juta/orang.

"Biasanya paket daging diserahkan dua hari sebelum lebaran sedangkan paket sembako diserahkan dua minggu sebelum lebaran," jelasnya. Itu cerita tahun lalu. Tahun ini, warga yang sudah menginvestasikan uangnya malah tak mendapatkan apapun alias buntung. Sebab, Suparjo si pengelola arisan malah kabur karena uang warga dipakainya untuk bermain di pasar vallas.

Sampai siang ini, Suparjo masih diperiksa intensif di Polres Jakarta Pusat. Suparjo yang berawakan botak, berjenggot, kumisan, dan berusia sekitar 50 tahun tampak mengenakan kemeja biru dan celana hitam. Suparjo memiliki dua putra dan seorang putri. Dia tercatat sebagai warga Galur, Jakarta Pusat. Sehari-hari kerja Parjo hanya mengurusi investasi warga dalam bentuk arisan Lebaran.

Investasi bodong juga merambah Jakarta Timur

Kasus investasi bodong dengan kedok koperasi kian merajalela. Di Kramat Jati, Jakarta Timur, Koperasi Putera Pandawa yang beroperasi sejak tahun lalu digeruduk para nasabah yang menuntut uangnya kembali. Koperasi yang diawaki oleh pasangan suami istri itu telah menjaring sebanyak 1.300 investor. Dari hasil pemeriksaan sementara, koperasi tersebut sudah tidak memilih aset berharga lagi.

"Tidak ada lagi aset yang dimiliki koperasi itu," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, kepada sejumlah wartawan, Senin (13/8). Dikatakan Rikwanto, pihaknya juga sudah memeriksa rekening milik dua tersangka yang ditahan penyidik yakni BR dan DM. Hasilnya, uang di rekening milik kedua tersangka tak bersisa.

Berdasarkan pengakuan tersangka, uang milik nasabah yang disetorkan ke rekening tersebut sudah dihabiskan untuk membangun rumah di kawasan Jakarta Timur. "Namun, kami masih dalami apakah rumah itu terkait dengan kasus ini atau tidak. Dari hasil pemeriksaan ini, mereka (tersangka) tidak mampu mengembalikan uang nasabah," papar Rikwanto. Oleh karena itu, kepolisian masih mendalami harta kekayaan milik BR dan DM yang terkait dengan dana operasional Koperasi Putera Pandawa.

Untuk diketahui, puluhan warga tiba-tiba mengepung kantor Koperasi Putera Pandawa di Jalan Kali Induk No 46B, Kampung Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur pada Jumat (10/8) malam. Mereka menuntut uang tabungannya dikembalikan. Namun, hal ini tak bisa dipenuhi BR dan DM yang merupakan pengurus koperasi itu. Alhasil, warga pun marah dan sempat menyekap pasangan suami istri tersebut.

Koperasi Putera Pandawa telah beroperasi sejak tahun 2011. Koperasi ini menawarkan keuntungan 30-50 persen dan setiap saat tabungan ini bisa diambil. Khusus untuk tabungan hari raya, nasabah bisa mengambil tabungan beserta keuntungannya sebelum Idul Fitri. Dengan tawaran keuntungan menggiurkan itu, koperasi ini berhasil menjaring 1.300 nasabah dengan total omset mencapai Rp 600 juta.  [merdeka]
      Berita Daerah  :

      Berita Nasional :