Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2012 @ majalahbuser.com
SELAIN permohonan maaf, selamat kemenangan menjadi kata lazim di hari Lebaran. Menang dan Idul Fitri memang sejatinya bagai dua sisi mata uang.

Seperti yang selalu disampaikan para ulama, Idul Fitri bermakna kembali ke fitrah atau yang dalam bahasa kita bisa diartikan sebagai asal kejadian atau sesuatu yang suci juga benar.
Selasa, 21 Agustus 2012

Ujian dari Kemenangan
Di kehidupan dunia yang sulit luput dari dosa, keberhasilan kembali suci tentulah sebuah kemenangan besar. Layaknya semua kemenangan, perayaan menjadi sesuatu yang wajar untuk meluapkan kegembiraan dan bersyukur. Namun di Tanah Air, perayaan itu tidak jarang terlihat sebagai suka cita yang memuaskan nafsu.

Suguhan berlimpah serta pernik dan perangkat baru seolah menjadi keharusan. Lebaran bagaikan panggung untuk pamer kesuksesan dan kekayaan kepada kerabat. Nilai-nilai warisan Ramadhan pun luntur hanya sehari setelah ia berlalu.

Memang bagian tersulit dari segala kemenangan ialah mempertahankannya. Lihat saja ajang Olimpiade, di mana kemenangan hal yang diperebutkan.

Manusia tercepat Usain Bolt dan raja kolam renang Michael Phelps pun dihujani keraguan oleh orang banyak meski empat tahun sebelumnya telah panen emas dan langganan mencetak rekor dunia.

Kemenangan para pencetak sejarah itu masih selalu diikuti dengan tuntutan untuk mempertahankannya.

Meski tanpa bukti catatan waktu dan medali, kemenangan dari perjuangan mengarungi Ramadhan tentulah memiliki beban lebih besar. Terlebih tanggung jawab kemenangan spiritual itu harus dibuktikan kepada Sang Pemilik Alam Raya.

Ujian sesungguhnya bagi para pemenang Ramadhan akan menghampar selama 11 bulan ke depan. Mampukah menahan nafsu ketika tidak ada larangan untuk memuaskannya? Akankah kita berbesar hati dan ikhlas untuk berbagi, bersabar dan memaafkan tanpa ganjaran pahala berlipat seperti yang dijanjikan saat Ramadhan?

Bukan saja untuk kemuliaan dan jalan surga bagi diri sendiri, sesungguhnya memang nilai-nilai itulah pula yang dibutuhkan bangsa dan negara ini. Ketika godaan kekuasaan dan celah korupsi ada di mana saja, kekuatan iman yang ditempa saat bulan mulia seharusnya menjadi benteng yang lebih kuat dari ancaman jeruji besi.

Saat perbedaan kultur, keyakinan dan ras mencuat di tengah isu sosial, bekal latihan kelapangan hati seharusnya bisa menjadikan kita menerima dan melihat sisi positif dari keberagaman.

Kita semestinya menolak kekerasan. Kita semestinya mencintai perdamaian serta silaturahmi sebagaimana nilai-nilai itu dijunjung dalam Ramadhan.

Saat kemenangan dan kekalahan menjadi hal lumrah dalam kehidupan sehari-hari hingga panggung politik, maka bukan caci maki dan saling serang yang akan dikedepankan. Kebesaran jiwa untuk mengakui keunggulan lawan dan juga tekad untuk menjadi lebih baik semestinya bukan hal yang berat untuk bangsa ini.

Kita semestinya mudah terketuk ketika ketimpangan ekonomi dan sosial muncul di hadapan kita. Seperti yang tergambar dari kegiatan buka bersama maupun sahur keliling, berbagi pada mereka yang kekurangan tentunya menjadi hal yang selalu dirindukan para umat Nabi Muhammad SAW.

Tidak kurang pula, memperjuangkan hak kaum tertindas menjadi hal yang dicintai para muslim hingga para pemimpinnya. Dengan semua kualitas itulah kita merayakan Lebaran.


(MICOM)
Presiden SBY Salat idul Fitri Di Masjid istiqal (ilustrasi)

      Berita Daerah  :

      Berita Nasional :

OPINI