Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2012 @ majalahbuser.com
Jakarta - Belum hilang dari ingatan tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di gunung Salak, Jawa Barat, 9 Mei 2012 lalu, tragedi kembali terjadi. Pesawat Fokker 27 milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara yang sedang latihan jatuh, Kamis 21 Juni 2012 sekitar pukul 14.45 WIB.

Pesawat buatan tahun 1975 itu jatuh menimpa rumah anggota TNI AU di Kompleks Rajawali, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Akibatnya, 10 orang tewas dan 12 lainnya luka-luka.

Menurut Ade, salah seorang saksi mata yang berada di lokasi kejadian, dia melihat pesawat berpenumpang 7 orang itu terbang rendah dan tiba-tiba miring. Dalam sekejab, pesawat menghilang dari pengamatannya.

"Kemudian terdengar bunyi ledakan, posisi jatuh sekitar satu kilometer dari rumah sakit Halim," ujarnya.
Jum'at, 22 Juni 2012

Fokker Jatuh, Penerbangan RI Kembali Berduka
Tujuh awak pesawat dan tiga warga tewas.
Ade melihat kepulan asap. Dia pun mendekat dan kemudian melihat sejumlah orang keluar dari reruntuhan bangunan dengan tubuh penuh debu. Saksi mata lainnya yang tak mau disebutkan namanya menuturkan, ada tiga kali ledakan saat kejadian. "Terdengar suara ledakan keras di udara, buumm," katanya.

Tak lama sesudah ledakan pertama, ledakan kedua menyusul dilanjutkan ledakan ketiga yang lebih keras lagi.  "Suara pesawat sebelum jatuh keras sekali. Soalnya pesawat terbang rendah banget," kata perempuan itu.

Senada dengan Ade, dia juga menyatakan sebelum jatuh, pesawat terlihat miring. "Seperti mau didaratkan ke sawah, tapi tidak sempat. Akhirnya jatuh ke permukiman," tuturnya.

Yohanes, warga yang rumahnya hanya sekitar 50 meter dari lokasi pesawat jatuh, menyatakan sebelum pesawat jatuh terdengar bunyi suara mesin yang sangat keras dan disusul suara ledakan. "Saya lari ke luar rumah dan mengejar sumber ledakan, ternyata pesawat sudah terbelah," kata Yohanes.

Bersama sejumlah warga lain, Yohanes lalu melakukan evakuasi terhadap korban yang rumahnya tertimpa badan pesawat. Saat itu rumah-rumah yang berada di lokasi kejadian langsung terbakar. Karena mesin pesawat terpental dan percikan avtur langsung menyulut rumah.

Asap hitam mengepul di lokasi kejadian. Sedikitnya 21 mobil pemadam kebakaran diterjunkan dengan dibantu warga sekitar untuk memadamkan api.

Badan pesawat terbelah dua. Bagian depan dan badan pesawat tersungkur hancur mencium tanah. Yang masih terlihat utuh hanya ekor pesawat yang menjulang ke atas.

Delapan Rumah Perwira Hancur

Dalam peristiwa mengerikan itu, sebanyak delapan rumah hancur akibat jatuhnya pesawat.

Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma Azman Yunus, delapan rumah itu adalah milik perwira TNI AU. Karena memang Komplek Rajawali merupakan komplek milik TNI AU. "Rumah yang rusak terletak di RT 11 RW 10 Branjangan 2 Komplek Rajawali," kata Azman.

Berikut nama perwira TNI AU yang rumahnya tertimpa pesawat:

1. Mayor Johanes Tandi Sosang
2. Letkol Sutarno
3. Rumah Letkol Kes Wiharwanto
4. Mayor Muchlisin
5. Mayor Kes Ali
6. Rumah Muhammad
7. Mayor Adm Grahadi
8. Letkol Azwar

Selain delapan rumah itu, ada juga bangunan aula RT yang turut rusak akibat insiden tersebut. "Aula itu baru dibangun," tambah Azman.

Korban Tewas 10 Orang

Azman Yunus menyatakan, pesawat Fokker 27 dengan nomor registrasi A2708 itu terbang dari Pangkalan Halim pada pukul 13.10 WIB. Pesawat itu, lanjut dia, kemudian mengudara di sekitar Pangkalan Halim.

Pesawat itu terbang selama 1,5 jam. Kemudian akan mendarat di Pangkalan Halim. Namun, saat hendak mendarat kecelakaan itu terjadi. "Memang kita selalu rutin melakukan penerbangan untuk latihan ini," kata Azman saat berbincang dengan VIVAnews.

Pesawat itu berisi tujuh penumpang. Terdiri dari pilot, co-pilot, siswa dan teknisi pesawat. "Jumlahnya tujuh orang," katanya.

Mereka adalah (pilot) Mayor Pnb Heri Setyawan, Kopilot Lettu Pnb Paulus Adim, Letda Pnb Syahroni, Kapten Teknik Agus SW, Serma Sihmulato, Serka Wahyudi dan Sertu Purwo.

Tiga korban tewas lainnya berasal dari warga. Mereka adalah Bryan (3 tahun) dan Melvin (1 tahun), keduanya adalah anak Mayor Johanes Andi Sosang. Juga seorang pembantunya.

Selain sepuluh orang korban tewas, sebanyak 12 lainnya mengalami luka dan masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat TNI AU Halim Perdana Kusumah. Dua orang masih di ICU karena terluka parah dan 10 orang lainnya mengalami luka ringan.

Salah satu korban luka parah adalah orangtua Mayor Johanes, yang bernama Martina. Hingga pukul 20.30 WIB, Martina masih menjalani perawatan intensif dengan kondisinya kritis.

Rumah Mayor Johanes adalah yang paling parah kondisinya karena langsung tertimpa badan pesawat. Sementara tujuh rumah lainnya terbakar akibat ledakan pesawat.

Mayor Johanes tak kuasa menahan tubuhnya setelah mengetahui anak dan  orangtuanya tewas dalam kejadian itu. Dia juga belum mengetahui nasib istrinya yang dikabarkan masih berada di reruntuhan bangunan.

"Dia syok, pingsan, sekarang masih dirawat," kata kerabat Mayor Johanes, Yanti di rumah sakit. (VIVAnews)
Sejumlah prajurit TNI AU berada didekat bangkai Pesawat Fokker 27 yang jatuh di sekitar kompleks perumahan Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (21/6)

      Berita Nasional :