Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 – 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 – 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2012 @ majalahbuser.com
Jakarta – Semua mata seakan terpana menyaksikan perkembangan evakuasi korban kecelakaan Sukhoi Superjet 100 yang menabrak Gunung Salak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 9 Mei 2012. Misteri jatuhnya Sukhoi nyaris membuat semua orang penasaran.

Bagaimana burung besi buatan Rusia yang lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dalam rangka demonstrasi terbang atau joy flight itu, bisa berakhir tragis di Gunung Salak? Padahal ini pesawat baru yang terbilang canggih.

Senin, 14 Mei 2012, tim SAR akhirnya menemukan perangkat Emergency Locator Transmitter (ELT) Sukhoi SSJ 100 di lokasi jatuhnya pesawat. ELT ditemukan 600 meter di bawah tebing jurang. Alat ini menjadi penting karena memberikan lokasi akurat tempat pesawat berada.
Selasa, 15 Mei 2012

Sukhoi Jatuh
Tim Ahli dari Rusia, Apa yang Mereka Kerjakan
ELT juga biasa disebut dengan Emergency Locator Beacon Aircraft (ELBA). Alat ini merupakan perangkat kompak yang digunakan untuk mengantar transmisi radio pada pesawat. Sebelumnya, pakar telekomunikasi dan informatika Roy Suryo mempertanyakan ELT Sukhoi yang tidak menyala saat kecelakaan terjadi. “ELT sudah merupakan standar penerbangan sipil. Kalau ada pesawat jatuh dengan tekanan tinggi di atas lima, ELT otomatis akan memancarkan frekuensi sehingga pesawat yang jatuh bisa dicari,” kata Roy yang ikut hadir di posko evakuasi Pasir Pogor, Kabupaten Bogor.

Masalah kemudian timbul karena radar yang dimiliki Badan SAR Nasional tidak bisa menangkap sinyal dari ELT Sukhoi yang jatuh itu. Persoalan ini terjawab dengan ditemukannya ELT oleh tim SAR itu. ELT Sukhoi SSJ 100 ternyata menggunakan model lama yang tidak bisa dideteksi oleh SAR. ELT jenis lama yang digunakan Sukhoi ini memancarkan sinyal pada frekuensi 105 VHF atau 121,5 MH, sedangkan perangkat ELT model baru memancarkan sinyal dengan frekuensi 406 VHF. Padahal, radar Basarnas hanya bisa menangkap dan memonitor sinyal dari frekuensi 406 VHF. Perbedaan frekuensi ini membuat keberadaan pesawat tak termonitor. “Frekuensi 105 VHF itu jenis pancarannya lurus dan tidak bisa memancar jika terhalang gunung atau bukit,” jelas Roy Suryo. Pantaslah lokasi jatuhnya Sukhoi tidak dapat langsung terdeteksi, karena pesawat ini jatuh ke dasar lembah Gunung Salak.

“ELT frekuensi 121,5 memang tidak bisa dideteksi satelit. Frekuensi 406 MH yang bisa ke satelit,” imbuh Ketua Basarnas Marsekal Madya Daryatmo. Namun demikian, Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi menyatakan perlu penelitian lebih lanjut soal ELT Sukhoi yang tidak bisa terdeteksi oleh radar Basarnas itu. Selain ELT, masih ada sejumlah perangkat lain yang belum diambil dari dasar lembah Gunung Salak. Tim SAR telah bekerja sama dengan tim Rusia untuk mencari dan mengangkat berbagai perangkat Sukhoi yang terserak, termasuk kotak hitam. Keberadaan kotak ini memang masih menjadi pertanyaan meski sejumlah pihak yang tergabung dalam tim SAR meyakini telah menemukan lokasi kotak hitam itu. Kotak hitam itu diduga berada di dasar lembah yang ditimpa rongsokan pesawat dan longsoran tanah, membuatnya sulit dijangkau.

Kondisi pesawat juga mempersulit diambilnya kotak hitam. “Kalau kondisi ekor pesawat utuh, mudah untuk mendapatkan black box, namun kondisi ekor pesawat Sukhoi ini hancur,” kata Daryatmo. Ia pun meragukan kotak hitam telah ditemukan. “Dugaan awal kami memang black box, namun ternyata itu alat komunikasi di dalam pesawat,” imbuhnya.

Kotak hitam adalah perangkat yang merekam data penerbangan (flight data recorder) dan suara dalam kokpit (voice data recorder) saat pesawat diterbangkan. Fungsi kotak hitam adalah untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau Air Traffic Controller (ATC), serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan. Penemuan kotak hitam Sukhoi diharapkan bisa menguak penyebab kecelakaan, khususnya terkait permintaan izin pilot untuk turun dari ketinggian 10.000 kaki ke 6.000 kaki. Kotak hitam ini juga diharapkan dapat mengakhiri spekulasi yang beredar soal penyebab kecelakaan pesawat, apakah karena faktor manusia, alam, teknis pesawat, atau gabungan di antaranya.

Rusia Terjunkan Ahli Terbaik

Rusia sebagai negara produsen Sukhoi menerbangkan tim khususnya ke Indonesia. Selain untuk membantu mengambil perangkat pesawat Sukhoi yang sebagian belum jelas rimbanya, juga untuk membantu proses evakuasi dan identifikasi korban. Ahli biomolekuler dan DNA terbaik Rusia, Profesor Ivanov, juga direncanakan tiba di Indonesia, Selasa 15 Mei 2012 , untuk membantu tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri mengidentifikasi korban kecelakaan Sukhoi SSJ 100. Namun, ini bukan berarti kualitas ahli forensik Indonesia lebih rendah.

Ketua DVI Nasional Indonesia, Mushadeq Ishak menegaskan, Indonesia memiliki pakar forensik setara dunia. “Metode dan Standard Operation Procedure kita dalam bidang DNA sangat maju. Ahli biomolekuler kita mengurai seluruh kasus dengan kualitas tinggi dan diakui dunia,” ujar Mushadeq di Rumah Sakit Polri Soekanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu 13 Mei 2012. Ahli forensik yang tergabung dalam DVI sendiri terbagi ke dalam 6 tim, yaitu 2 tim forensik patologi, 1 tim forensik ortodologi, dan 1 tim forensik antropologi. Lantas apa fungsi ahli DNA Rusia jika ahli-ahli forensik Indonesia juga berkualitas tinggi?

“Ahli Rusia tentu memiliki pengalaman lain. Jadi kami menyinergikan dan membagi pengalaman sehingga dapat mempercepat proses identifikasi,” jelas Mushadeq. “DVI akan bekerja keras bersama tim Rusia untuk proses identifikasi yang profesional, transparan, akuntabel, dan independen,” imbuhnya. DVI dan tim forensik Rusia itu juga akan dibantu pakar-pakar forensik dari Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, dan Universitas Airlangga. Sementara tim forensik Rusia yang di dalamnya termasuk Profesor Ivanov, akan dipimpin oleh dokter forensik Andry Kovalev.

Kovalev sendiri sudah tiba lebih dulu di Indonesia pada Sabtu 12 Mei 2012. Ia juga sudah mulai bekerja mengidentifikasi korban Sukhoi. Kovalev merasa terhormat dapat ikut membantu mengidentifikasi korban yang delapan di antaranya juga warga negara Rusia. “Kami dan kolega kami akan bekerja sesuai standar interpol. Sikap yang bersahabat dari pihak Indonesia membantu kami mencapai hasil terbaik dalam proses identifikasi,” kata dia. Kovalev menjelaskan, lawa waktu identifikasi korban tergantung pada jumlah potongan tubuh jenazah yang dikumpulkan, sehingga sulit memprediksi waktu yang mereka butuhkan untuk mengidentifikasi.

“Jumlah potongan tubuh sangat banyak. Susah mengatakan berapa lama waktu yang dibutuhkan karena tujuan utama identifikasi adalah menetapkan kepribadian korban, dan milik siapa potongan tubuh itu sebenarnya. Seperti membangun pesawat yang tidak bisa selesai dalam satu hari, mengidentifikasi potongan tubuh juga begitu,” kata Kovalev. Ia memperkirakan waktu identifikasi minimal bisa dilakukan dalam dua minggu. Sementara itu Direktur Eksekutif DVI Indonesia, Anton Castilani, membenarkan kondisi jenazah korban sudah tidak utuh sehingga pekerjaan 45 post mortem dilakukan dengan jigsaw puzzle, yaitu diacak dan dikumpulkan menjadi satu, di mana masing-masing potongan diberi label, baru kemudian dikelompokkan.

Selain mendatangkan ahli forensik, Rusia juga mengirim teknisi Sukhoi yang tiba di Gunung Salak sejak Sabtu pagi, 12 Mei 2012. Ada pula tim investigasi Rusia yang total berjumlah 81 orang. Setiba di Gunung Salak, tim ini langsung berkoordinasi dengan tim SAR Indonesia di Posko Cijeruk dan sebagian menyusul menuju lokasi jatuhnya pesawat. Tim ini difokuskan untuk mencari puing-puing pesawat.

Sampai Senin, 14 Mei 2012, sudah ada 25 kantong jenazah yang terkumpul di RS Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur. “Totalnya sudah ada 25 kantong jenazah yang dikirim ke Jakarta,” kata Komandan Landasan Udara Atang Sanjaya, Marsekal Pertama Tabri Santoso, di Posko Cijeruk, Kabupaten Bogor. Selain 25 kantong jenazah, 3 kantong berisi properti juga terkumpul. Kantong properti itu antara lain berisi dompet, kartu identitas, BlackBerry, baju, dan beberapa perlengkapan milik korban. Sejauh ini dalam melakukan identifikasi, tim forensik lebih mengedepankan pemeriksaan melalui DNA karena kondisi jenazah sulit dikenali. (VIVAnews)
tim-gabungan-evakuasi-dari-rusia

      Berita Nasional :