Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp. 0354 - 547955 (081 234 700 500) - Email : redaksi@majalahbuser.com
@ 2009 - 2022 majalahbuser.com
Jakarta - Anggota Komisi VII DPR Sartono Hutomo mengkritik keputusan pemerintah menaikkan harga BBM jenis Pertalite dan solar. Sartono menilai pemerintah seolah tidak memikirkan dampak signifikan akibat kenaikan harga BBM.

"Pemerintah tetap harus melakukan pekerjaan rumah, yaitu dengan mengendalikan penyaluran BBM bersubsidi kepada pihak yang berhak. Kenaikan bukanlah solusi yang dikehendaki rakyat," kata Sartono dalam keterangan tertulis, Minggu (4/9/2022).

Sartono juga menyoroti momentum kenaikan harga BBM. Dia melihat pemerintah seolah tak mempertimbangkan aktivitas masyarakat yang tengah berjalan.

"Mengenai waktu kenaikan. Pemerintah seolah-olah tidak memikirkan kegiatan ekonomi yang sedang berjalan di akhir pekan ini," ucapnya.

Lebih lanjut Sartono menyebut kenaikan harga BBM tak biasanya dilakukan pada siang hari. Dia menganggap keputusan pemerintah menaikkan harga BBM mendadak.

"Biasanya kenaikan harga BBM dilakukan di pergantian hari untuk mempermudahkan adaptasi dari kenaikan harga. Ini di siang hari, mendadak. Bayangkan rakyat kecil seperti angkot, sopir truk, dan lain-lain yang di tengah perjalanan harus menyesuaikan," ujar Sartono.

Legislator dapil Jatim VII ini juga mempertanyakan mengapa kenaikan harga Pertalite dan solar dilakukan setelah harga Pertamax Turbo turun. Terlebih, sebut Sartono, harga minyak dunia saat ini juga sedang turun.

"Mengenai kenaikan harga BBM, bukankah baru beberapa hari yang lalu pemerintah menurunkan harga BBM, seperti Pertamax Turbo, sebagai imbas dari turunnya harga minyak dunia ke level USD 80? Apabila trennya turun kembali bagaimana?" katanya.

Sartono menekankan kenaikan harga BBM akan mempengaruhi daya beli masyarakat secara signifikan. Dia menyoroti masyarakat kelas menengah akan menahan belanjanya yang pada gilirannya akan berimbas terpukulnya industri manufaktur.

"Apakah pemerintah sadar kenaikan harga BBM akan berpengaruh signifikan terhadap daya beli masyarakat? Inflasi akan mengalami kenaikan dan juga harga bahan pangan akan kembali naik," ucap Sartono.

"Kenaikan harga Pertalite dan Solar akan mempengaruhi masyarakat, termasuk kelas menengah, karena mereka akan mulai menahan belanjanya," imbuhnya.

Tak hanya itu, Sartono memprediksi kenaikan harga Pertalite dan solar juga berimbas negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. Yang mana, lanjut dia, akan berdampak terhadap pemulihan ekonomi.

"Penahanan belanja masyarakat akan berimbas pada permintaan industri manufaktur yang berpotensi terpukul, serapan tenaga kerja terganggu hingga akhirnya target-target pemulihan ekonomi pemerintah tidak sesuai target," kata Sartono.

Sartono memastikan pihaknya terus mengawal penanganan pemerintah terkait kenaikan BBM.

"Kami akan terus mendorong pemerintah untuk meningkatkan kemampuan dalam penyaluran subsidi BBM agar semakin tepat sasaran dan meminimalkan kebocoran yang ada," katanya.

Presiden Jokowi sebelumnya buka suara soal harga BBM subsidi naik. Menurut Jokowi, harga BBM subsidi akan mengalami penyesuaian.

"Mestinya uang negara itu diprioritaskan untuk subsidi masyarakat yang kurang mampu. Dan pemerintah saat ini harus buat keputusan dalam situasi sulit. Ini adalah pilihan terakhir pemerintah, yaitu mengalihkan subsidi BBM," kata Jokowi dikutip dari keterangan Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Sabtu (3/9).

"Sehingga harga beberapa jenis BBM yang selama ini dapat subsidi akan mengalami penyesuaian," tegas Jokowi.

Sementara itu, Menteri ESDM Arifin Tasrif merinci harga BBM yang naik, antara lain:
Pertalite dari Rp 7.650 per liter jadi Rp 10.000 ribu per liter.
Solar subsidi dari Rp 5.150 per liter jadi Rp 6.800 per liter.
Pertamax non subsidi dari Rp 12.500 per liter jadi Rp 14.500 per liter. (fca/zak/detik)
Minggu, 04 Sep 2022

Kritik Harga BBM, Anggota DPR: Kenaikan Bukan Solusi Kehendak Rakyat
Ribuan Umat Islam Jawa Timur berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM di depan
Kantor DPRD Jawa Timur, Jumat (2/9/2022).  (Foto: Nur Syafei/jatim.inews.id)
      Berita Nasional :

       Berita Daerah