Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 – 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 – 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2012 @ majalahbuser.com
Magelang - Andai saja waktunya bertepatan malam hari dengan langit cerah, mungkin saja "supermoon" terlihat dari pelataran Candi Mendut, ketika para biksu bersama umat Buddha mencapai detik-detik Waisak tahun ini.

Akan tetapi, berdasarkan perhitungan perputaran bulan, Waisak 2012 jatuh pada Minggu (6/5) pukul 10.34.49 WIB, bertepatan dengan bulan purnama yang kali ini secara khusus posisi bulan di jarak terdekat dengan bumi.

Gong khusus ditabuh tiga kali oleh Biksu Wongsin Labhiko Mahathera didampingi Biksu Tadisa Paramita Mahasthavira di depan altar dengan patung Sang Buddha Gautama di tengahnya.

Itulah tanda dimulai meditasi detik-detik Waisak 2012 yang mereka jalani selama beberapa saat di pelataran Candi Mendut, sekitar tiga kilometer timur Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Senin, 07 Mei 2012

Mereka Mencapai Detik-Detik Waisaknya
Para biksu bersila di depan altar Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (6/5), untuk menjalani meditasi detik-detik Waisak 2012 tepat pukul 10.34.49 WIB.
Para biksu berbagai dewan sangha Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan puluhan ribu umat Buddha berasal dari berbagai daerah di Indonesia serta mancanegara pun masuk dalam suasana khusyuk, ketika waktu itu tiba.

Langit di atas Candi Mendut tampak cerah. Umat berduyun-duyun datang dari berbagai penjuru memasuki pelataran Candi Mendut sejak pagi hari, menunggu tiba detik-detik Waisak.

Mereka duduk bersila di atas karpet dengan tenda ukuran besar di sekeliling candi tersebut, mendaraskan doa-doa, membaca sutra, parita, dan mantra dengan dipimpin secara bergantian oleh para biksu sangha.

Selama beberapa saat Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dan Bupati Magelang Singgih Sanyoto mengunjungi mereka yang hendak menuju tibanya detik-detik Waisak dengan diterima Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Walubi Siti Hartati Murdaya. Secara bergantian para petinggi itu memberikan sambutan singkatnya.

"Aku berlindung kepada Buddha, aku berlindung kepada darma, aku berlindung kepada sangha. Dengan kekuatan semua Buddha, dengan kekuatan darma, dengan kekuatan sangha, semoga semua musibah lenyap apa adanya, semoga semua makhluk berbahagia," demikian sepenggal kalimat pesan Waisak disampaikan Biksu Wongsin yang juga Wakil Wakil Koordinator Vidya Kasabha DPP Walubi itu.

Umat Buddha bersama para biksu memejamkan mata, masuk dalam keheningan detik-detik Waisak. Mereka duduk bersila dengan sikap badan tegak menjalani meditasi itu.

Kuat kesan bahwa mereka masuk dalam suasana ketenangan batin dan pemusatan pikiran, ketika bertahta di puncak perayaan Tri Suci Waisak 2012.

Tri Suci Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalan ajaran Buddha yakni kelahiran Sidarta Gautama, pencapaian kesempurnaan Buddha Gautama, dan mangkat Sang Buddha.

"Pembabaran ajaran Buddha merupakan sebab dari kebahagiaan. Persatuan merupakan sebab kebahagiaan dan usaha perjuangan mereka untuk bersatu merupakan sebab kebahagiaan," katanya.

Perkataan bernasnya berlanjut meluncur seakan deras untuk membawa umat masuk kepada renungan atas penghormatan terhadap waktu.

Biksu Wongsin yang juga Kepala Dharammaduta Thailand di Indonesia itu mengatakan, tak ada sesuatu pun di atas bumi yang patut disayangkan daripada kehilangan waktu.

Sedikit saja waktu itu hilang, katanya, sebagian hidup manusia sesungguhnya hilang dan dengan bertambahnya umur seseorang maka sebenarnya hilang juga hidupnya.

"Cepat-cepatlah berbuat kebajikan, kendalikan pikiran dari kejahatan. Barang siapa lamban berbuat kebajikan maka pikiran cenderung kepada kejahatan. Bangkitkan pikiran dengan penuh cinta kasih dan welas asih tanpa pamrih kepada semua makhluk, Indonesia akan makmur dan maju," katanya.

Tema Waisak 2012 adalah "Meningkatkan Metta dan Karuna (Cinta Kasih dan Welas Asih)". Rangkaian perayaan Tri Suci Waisak antara lain ditandai dengan bakti sosial pengobatan gratis kepada masyarakat bertempat di Taman Lumbini Candi Borobudur (2-3 April 2012), prosesi pindapata di Kelenteng Liong Hok Bio Kota Magelang (3/5).

Selain itu, pengambilan air berkah dari Umbul Jumprit, lereng Gunung Sindoro, Kabupaten Temanggung (4/5), dan pengambilan api darma di sumber api alami Mrapen, Kabupaten Grobogan (5/5).

Air dan api itu kemudian disemayamkan di Candi Mendut untuk diarak menuju Candi Borobudur sebagai sarana puja bakti Tri Suci Waisak (6/5).

Biksu Tadisa yang juga Koordinator Vidya Kasabha DPP Walubi menyampaikan renungan Waisak 2012 dengan kalimat-kalimat yang meluncur terkesan lantang dari depan altar di selatan Candi Mendut yang antara lain berhias rangkaian bunga, buah, dan lilin berwarna-warni.

Kehadiran Buddha, katanya, bukan sekadar dikenang, dihormati, dipuja-puji, akan tetapi hendaknya semua makhluk hidup mempraktikkan darma Sang Buddha itu dalam kehidupan sehari-hari.

"Jangan tunda keselamatan diri untuk naik kepada pencerahan dan pembebasan mutlak," katanya.

Ia mengatakan, semua ajaran Buddha berlandaskan cinta kasih dan welas asih untuk selamanya.

Cinta kasih memberikan kebahagiaan semua makhluk sedangkan welas asih menyelamatkan makhluk lain.

Usai bermeditasi detik-detik Waisak di pelataran Candi Mendut itu, para pimpinan biksu sangha beranjak dari tempat bersila masing-masing, lalu berjalan sambil membawa bokor berwarna keemasan berisi air berkah.

Para biksu itu memercikkan air kepada setiap umat sebagai tanda berkah atas Tri Suci Waisak.

Dan ketika setiap percikan air itu menyentuh umat, mereka menyambutnya dengan mengatupkan kedua tangan di depan dada dan membungkukkan badan sebagai tanda hormat atas simbol penguatan semangat menjalani hidup kebuddhaannya. (ant)

      Berita Nasional :