Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Yogyakarta - Berbagai ritual dilakukan masyarakat Jawa dalam menyambut 1 Suro. Salah satunya ritual yang digelar warga Samas, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ritual selalu digelar tiap tahunnya untuk mengenang Maheso Suro yang dipercaya telah mendatangkan kemakmuran warga di pesisir pantai selatan tersebut.
Minggu, 27 Nopember 2011

Ritual Mahesa Suro Meriahkan Malam 1 Suro
Satu Suro adalah awal bulan pertama Tahun Baru Jawa, bertepatan dengan 1 Muharam. Kalender Jawa pertama kali diterbitkan oleh Raja Mataram Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1940 lalu, mengacu penanggalan Hijriyah (Islam). Di sejumlah daerah di Pulau Jawa, termasuk di Kabupaten Bantul, masyarakat Jawa masih tetap menjalani dengan laku atau lampah bathin dan prihatin.

Malam hari menyambut datangnya tanggal 1 Suro atau tepatnya pada Sabtu, 26 November 2011, masyarakat di Desa Srigading menggelar prosesi Kirab Tumuruning Maheso Suro yang dimulai pukul 21.00 WIB. Dikisahkan oleh Dwi Raharjo, tokoh masyarakat sekaligus Kepala Desa Srigading, dahulu warga Samas dilanda paceklik, tanaman pertanian tidak bisa tumbuh subur. Warga desa selanjutnya memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Beberapa waktu kemudian warga Samas dikejutkan dengan munculnya seekor kerbau. Kerbau berwarna hitam kelam itu, oleh perangkat desa kemudian ditangkap dan dipelihara bersama kerbau-kerbau lokal.

Anehnya, setiap kali kerbau tiban itu merusak sawah ladang yang dilewatinya, tanaman di atas tanah-tanah itu justru tumbuh subur. Setelah beranak pinak, mahesa yang muncul pertama kali di Bulan Suro itu pun menghilang entah kemana.

Karena itu, masyarakat Samas, Srigading selalu mengenang datangnya kerbau hitam itu dengan menggelar ritual Kirab Tumuruning Maheso Suro sejak tahun 1910.

"Masyarakat Pantai Samas, memperingati Tumuruning Mahesa Suro sebagai lambang kemakmuran," kata Dwi.

Prosesi Kirab Tumuruning Mahesa Suro ini diawali dari rumah Dwi Raharjo. Uba rampe berupa kerbau, jodang yang berisi aneka makanan (tumpeng) dan buah-buahan, gunungan yang berisi hasil bumi dikirap menuju Pantai Samas yang jaraknya sekitar 1 kilometer.

Setelah tiba di Pantai Samas, uba rampe yang dikirap warga didoakan oleh Mbah Karyono, kaum rois setempat. Namun sebelum didoakan oleh kaum, empat orang aliran kejawen yaitu Jumbido, Kamijan, Kaswiyo, Wirosojojuga melakukaan doa dengan membakar kemenyan.

Usai didoakan uba rambe berupa gunungan dan makanan diperebutkan warga, sedangkan kerbau mahesa suro dilarung ke laut. "Kita berharap ritual kirab Mahesa Suro ini menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan,"ujar Bambang Legawa, Kepala Dinas Pariwisata Pemkab Bantul, DIY. (VIVAnews)
Ritual Mahesa Suro
      Berita Nasional :

      Berita Daerah  :