Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Pamekasan - Bupati Pamekasan Kholilurrahman mengatakan, istilah "toron" yakni istilah yang biasa digunakan bagi warga Madura yang hendak pulang ke kampung halamannya, justru merendahkan derajat orang Madura.
Senin, 07 Nopember 2011

Istilah Toron Rendahkan Martabat Madura?
Ilustrasi-Jembatan Suramadu juga dianggap telah menyamakan derajad orang Madura dan Jawa, karena melalui jembatan itu hubungan sosial keduanya menjadi lancar tak bersekat
"Inilah yang saya kira membuat orang Madura sulit untuk maju, karena dengan istilah itu, seolah menampatkan posisi orang Madura berada dibawah orang di luar Madura," kata Bupati Kholilurrahman di Pamekasan, Sabtu.

Padahal, kata Kholilurrahman, sejak jembatan penghubung antara Madura dengan Jawa (Suramadu) dioperasikan, Pulau Madura sudah menjadi pulau yang terbuka, dan sederajat dengan Jawa. Demikian juga dengan akses transportasi, termasuk tingkat perkembangan ekonomi masyarakatnya. Sehingga warga Madura tidak perlu lagi ditempatkan sebagai kelas sosial kedua setelah Jawa.

"Media saya kira perlu memperbaiki citra ini. Kenapa harus menggunakan kata 'toron', kenapa tidak pulang kampung atau mudik saja," kritik Kholilurrahman.

Hal senada juga dikemukakan oleh budayawan asal Bangkalan, Achmad Sugianto. Wakil Ketua Sanggar Tari Tralala ini mengatakan, istilah "toron" bagi warga yang tinggal di luar Madura dan hendak pulang ke kampung halamannya, memang menunjukkan kesan diskriminatif.

Dulu, kata dia, istilah "toron" itu memang bisa diterima, karena Madura merupakan daerah terisolir, bahkan untuk sampai ke pulau yang kini berpenduduk 3,9 juta orang ini, harus menyeberangi kapal dan akses transportasi sangat sulit.

"Tapi kan sekarang sudah tidak seperti itu lagi. Kebudayaan di Madura sudah mulai maju dan penduduk Madura sudah mau maju," kata Sugianto. Menurut dia, istilah "toron" bagi warga asal Madura yang hendak kembali ke kampung halamannya dan "ongghe" atau naik bagi warga yang hendak bepergian ke Jawa memang tercipta atas kondisi sosial yang ada pada zaman dulu, ketika kemiskinan dan keterbelakangan sosial masih terjadi di Pulau Madura.

"Sekarang saya kira sudah saat istilah 'toron' dan 'ongghe' itu dihapus dari cara pandang dan pola pikir masyarakat, baik masyarakat Madura sendiri atupun masyarakat luar Madura," katanya menambahkan. (ant)


Tradisi Toron Tidak Merendahkan Orang Madura

Sementara itu, Ketua Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (Pusam) Universitas Muhammadiyah Malang Syamsul Arifin menepis anggapan bahwa tradisi toron merendahkan orang Madura. Budaya toron atau pulang kampung bagi orang Madura di perantauan itu justru kadang untuk menunjukkan keberhasilannya di perantauan.

Pernyataan itu disampaikan Syamsul yang asal Sampang, Madura, mengomentari pernyataan Bupati Pamekasan Kholilurrahman yang pada Sabtu lalu mengatakan, istilah toron yang biasa digunakan bagi warga Madura yang pulang ke kampung halamannya merendahkan derajat orang Madura.

"Inilah yang saya kira membuat orang Madura sulit untuk maju. Karena istilah itu seolah menempatkan orang Madura berada di bawah orang di luar Madura," kata Bupati Kholilurrahman di Pamekasan, Sabtu lalu. Menurut Syamsul, Minggu (6/11/2011), di Madura sendiri orang-orang yang toron itu seperti orang asal Jawa pulang berlebaran dari kota besar, seperti orang telah sukses di perantauan, dan ada maksud menunjukkan kesuksesannya.

"Hanya orang yang sudah merasa memiliki sesuatu yang hendak ditunjukkan yang berani, tentu tidak mutlak demikian toron," katanya. Toron adalah tradisi pulang kampung bagi orang Madura, yang biasa dilakukan beberapa hari menjelang Idul Adha.

Guru Besar Sosiologi UMM ini menjelaskan, ada hubungan antara toron dan hierarki sosial bahwa seolah-olah Madura lebih rendah dibandingkan dengan tanah Jawa sehingga pelakunya lantas turun jika pulang ke Madura.

"Lalu, sebaliknya jika hendak ke Jawa. Itu istilah yang khas, unik, dan antropologis, dengan makna yang kontekstual terhadap proses mobilitas sosial orang Madura yang mengenal budaya perantauan," lanjutnya. Menurut Syamsul, toron sebagai fenomena budaya lebih tepat dilihat sebagai proses sinergi sosial atau pembentukan ikatan sosial antara warga perantau dan kampung halamannya.

"Ini merupakan kearifan sosial karena melalui toron tidak akan kehilangan sumber daya manusianya yang telah pergi meninggalkan kampung halaman. Bandingkan dengan mobilisasi sosial di pulau lain, yang membuat perantau kemudian bisa tak pulang lagi, dan tak lagi memakmurkan tanah kelahirannya," ungkapnya. Syamsul kini dikenal sebagai salah seorang guru besar kajian Islam moderat yang dihormati komunitas kajian keislaman internasional dan banyak tampil pada forum intelektual muslim internasional. Tahun ini, ia mengaku tidak toron saat Idul Adha karena masih kelelahan sepulang dari Utah, Amerika Serikat.
"Saya ke Madura tanpa jadwal. Setiap saat butuh pulang, butuh omong-omong dengan orangtua dan keluarga, saya langsung pulang saja," katanya. (kompas.com)

      Berita Nasional :

      Berita Daerah  :