Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com                                                                                        Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com                                                                                        Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com                                                                                        Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com                                                                                        Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com                                                                                        Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com                                                                                        Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com                                                                                        Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
IWAN BOEDIANTO
Visi Jelas Mantan Suporter

Tangan dinginnya sukses mengantarkan klub-klub yang dibinanya menempati posisi terhormat. Baginya, klub adalah faktor utama untuk mengangkat prestasi persepakbolaan nasional.

ELITE persepakbolaan memang harus berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang setia memberikan dukungan saat timnas berlaga. Itu memang salah satu modal, meski masih gagal diterjemahkan otoritas sepak bola. Masyarakat tentu masih ingat penaikan harga tiket saat final Piala AFF 2010 digelar di Senayan, Jakarta, belum lama ini.
Iwan Boedianto pun merasa bersyukur atas fanatisme masyarakat Indonesia terhadap olahraga kulit bundar ini. Menurutnya, modal besar itu sudah seharusnya diperkuat lagi dengan perhatian dan pemantapan manajemen klub sepak bola yang tersebar di seluruh Tanah Air. Diakui atau tidak, pembinaan klub masih belum tersentuh dengan apik.

"Kesuksesan sepak bola Indonesia sebenarnya bisa diawali dari pembinaan klub," ujar Iwan mengawali perbincangan dengan Media Indonesia awal pekan ini. Menurut mantan asisten manajer timnas Piala AFF 2010 itu, dukungan saja tidak cukup untuk membuat sepak bola Indonesia bangkit dan menjadi lebih baik. Tumbuh kembangnya sepak bola yang berprestasi, suka atau tidak suka, harus dimulai dari pembangunan manajerial klub yang profesional dan kompetisi yang baik serta pembinaan pemain muda. Apa yang dikemukakan Iwan itu beralasan kuat. Dengan segudang pengalamannya sebagai manajer sejumlah klub Tanah Air, Iwan boleh dibilang sudah kenyang makan asam garam saat membina klub.

Publik sepak bola, khususnya masyarakat Malang, Kediri, dan Samarinda, tentu sudah akrab dan berterima kasih dengan sosok yang satu ini. Pasalnya, pria yang kini menjabat Ketua Badan Liga Amatir Indonesia ini berjasa besar pada tumbuh kembang persepakbolaan di daerah tersebut. Di tangannya, Arema Malang, Persik Kediri, dan Persisam Samarinda menjadi klub yang disegani.

Karier Iwan dalam persepakbolaan nasional terbilang moncer. Saat masih di Malang, dia sukses dengan tim 'Singo Edan' Arema Malang. Ketika 'boyongan' ke Kediri, dia juga sukses membawa 'Macan Putih' Persik Kediri ke papan atas persepakbolaan Indonesia. Itu semua dilandasi dengan dedikasi. Meski tidak mengenyam pendidikan sepak bola, dengan caranya sendiri Iwan mampu membangkitkan klub-klub yang dimanajerinya. Rasa cinta Iwan terhadap sepak bola berawal dari bawah, suporter biasa. "Saya tidak pernah lepas nonton pertandingan Arema Malang."

Hingga pada 1999, saat masih berstatus mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Kediri, tanpa diduga ia ditawari untuk menjadi manajer Arema. Sosoknya dipilih karena saat itu Arema Malang mengalami masalah keuangan cukup pelik. Tugas utamanya membantu Arema keluar dari kemelut keuangan itu agar dapat berpartisipasi dan berprestasi di Liga Indonesia V. Ia pun bisa!

Kesuksesan bersama tim 'Singo Edan' itu membuat pengurus Persik Kediri kesengsem. Iwan dipinang untuk membangun klub yang solid. "Saya saat itu ditanya, bisakah di Kediri punya fanatisme sepak bola seperti di Malang?" Memang benar, Anda bisa lihat jika Arema Malang berlaga sebagai tuan rumah, kota penghasil apel itu menjadi biru semua.

"Saya katakan sulit dan butuh perjuangan keras, tapi di situlah tantangannya. Kalau tidak, kapan lagi?" tekan Iwan yang akhirnya menyanggupi pinangan menjadi manajer tim Persik Kediri. Ia dengan sabar membina tim yang masih sangat muda itu. Untuk dapat masuk kompetisi nasional paling bawah (Divisi II) saja, Persik harus melakoni pertandingan dari kampung ke kampung.

Dari Probolinggo hingga Pasuruan, tim 'Macan Putih' menjalani laga ke seluruh wilayah Jawa Timur. Hingga akhirnya, Persik juara dan itu mengantarkan mereka ke Divisi II Liga Indonesia. Seolah haus gelar, Iwan membawa Persik naik ke Divisi I di tahun berikutnya (2001/2002). Pepatah makin tinggi pohon semakin kencang angin bertiup boleh jadi pantas disematkan pada Iwan.

Di tengah karier keberhasilannya atas Persik, muncul suara minor dari masyarakat yang menyangsikan kemampuannya. "Saya dianggap mendompleng kekuasaan mertua yang kebetulan menjabat Wali Kota Kediri." Sebagai pembuktian, Iwan memutuskan keluar dari Persik dan kembali bergabung dengan Arema. Di klub kebanggaan kota kelahirannya itu, Iwan kembali menunjukkan kemampuan sebagai manajer profesional. Dia mengelola Arema secara profesional.

"Saya berhasil mendapatkan sponsor utama sepada motor China dengan nilai Rp1 miliar. Angka yang terbilang besar saat itu. Karena keberhasilan ini, saya dijuluki sebagai manajer Rp1 miliar," kenangnya. Semua keraguan terjawab. Pada 2002, Persik yang hampir terdegradasi berkehendak merapatkan diri kepadanya. Iwan sempat menolak pinangan itu, tapi akhirnya luluh juga ketika Ketua DPRD berkomitmen untuk mendukung persepakbolaan Persik.

Agak mengherankan. Iwan saat itu memegang dua tim sekaligus, yakni Arema Malang di Divisi Utama dan Persik Kediri di Divisi I. "Sangat berat untuk memutuskan memilih salah satu dari dua tim itu. Tapi, saya harus lakukan ketika Persik masuk ke Divisi Utama." Iwan pun akhirnya memutuskan untuk menangani Persik dengan risiko dicap sebagai pengkhianat. "Saya tidak akan menyesali keputusan itu karena memang Persik lebih membutuhkan saya," katanya.

Arti sebuah klub
Tiga belas tahun sudah Iwan berkarier sebagai manajer di klub. Segudang ilmu tentu telah dipetiknya dari pengalaman. Saat memandang perkembangan klub-klub Indonesia saat ini, Iwan secara terbuka mengakui pengurus klub kurang memiliki sense of football.
"Mereka berpikir simpel saja. Jika kita memahami perjuangan tim yang sukses, perjuangan itu harus dari titik nol. Sebuah tim tidak secara tiba-tiba menjadi sebuah klub yang disegani," tekan pria yang kini mencalonkan diri sebagai anggota Komite Eksekutif PSSI. Menurut Iwan, manajemen sepak bola lebih pada kemauan. Mengurus sepak bola tidak seperti mengurus perusahaan yang cenderung berorientasi pada profit. "Banyak orang lupa perlakuan sejajar dengan semua aspek di tim sangatlah menentukan."
Di mata Iwan, setiap klub dan pemain pasti memiliki massa yang besar. Di situlah peran manajer akan sangat menentukan. "Manajer seharusnya lebih bertindak sebagai pembantu, bapak, teman, bahkan sahabat bagi mereka sehingga saat masuk ke lapangan, mereka (pemain) sudah sadar betul tujuan bertanding," katanya.

Diakuinya, kondisi persepakbolaan di Tanah Air saat ini sudah jauh berbeda. Di era sebelumnya, sepak bola tidak dapat dijadikan sumber masa depan. Itu juga yang membuat orang tua melarang anak untuk menekuni jenis olahraga ini.

Kelompok masyarakat berfinansial menengah ke atas dulu tidak akan mengizinkan anak mereka menjadi pemain bola. "Ketika saya lulus SMA langsung ditanya mau melanjutkan ke jurusan apa. Ketika menjawab mau berkarier di sepak bola, orang tua langsung melarang keras." Itu berbeda dengan saat ini. Dengan nilai kontrak pemain yang tinggi, sepak bola telah menjelma menjadi profesi yang menjanjikan untuk ditekuni. Apalagi saat ini di Indonesia telah bermunculan figur dan pesepak bola idola baru.
Ia mencontohkan setelah usai era Bambang Pamungkas, kini Yongki Aribowo dan Oktovianus Maniani muncul sebagai sosok baru pesepak bola andal yang dimiliki Indonesia. Faktor-faktor itulah, menurut Iwan, yang bisa menyebabkan anak-anak tertarik datang ke sekolah-sekolah sepak bola untuk menekuni olahraga ini. Di sinilah Iwan menemukan pembenaran bahwa pola pengidolaan pemain di klub kini bagi masyarakat dirasakan semakin penting sekaligus membuat pembinaan terus berjalan.
(M-1)(MICOM)
Iwan Budianto

Senin,14 Pebruari 2011