Foto: Kepala Disbudpar Kabupaten Tulungagung Muhammad Ardian Candra

Tulungagung – majalahbuser.com, Jaranan Senterewe resmi menerima penghargaan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Gubernur Jawa Timur dalam sebuah seremoni khidmat menandai pengakuan negara atas nilai historis, artistik, dan spiritual yang melekat pada kesenian tradisional tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung mengatakan, akan melakukan pengembangan secara luas potensi tersebut agar dapat bermanfaat bagi wilayah Tulungagung, dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya serta pariwisata, sehingga Pariwisata di Kabupaten akan lebih berkembang lagi.

“Dan kedepannya yang akan kita lakukan melestarikan dan melakulan pembinaan terhadap pelaku-pelaku seni Jaranan yang ada di Kabupaten Tulungagung, utamanya jaranan Senterewe yang saat ini tersebar di sanggar-sanggar,” terang Kadisbudpar Kabupaten Tulungagung, Muhammad Ardian Candra yang ditemui dikantornya pada hari Selasa, 3/3.

Dikatakan pula jumlah Sanggar kurang lebih ada 12 Sanggar di Tulungagung, dan salah satu bentuk kegiatan pembinaan dan pelatihan adalah tampil sesering, mungkin pada ivent-ivent tertentu, harapannya juga menarik minat bakat dan talenta-talenta muda seni jaranan Senterewe di Kabupaten Tulungagung.

“Alhamdulillah para penari untuk saat ini sudah ada regenerasi muda, terutama dari  kalangan pelajar yang sudah meminati dan menekuni tarian jaranan senterewe bekerjasama sama dengan sanggar-sanggar tari,” tambahnya.

Lebih lanjut dikatakan, berkaitan dengan pementasan untuk ivent Pariwisata lebih dahulu akan dilakukan gladi kemudian menyempurnakan tarian yang akan ditampilkan yang tentunya  mempunyai nilai jual.

“Namun tentunya pula tidak keluar dari pakem kebudayaan jaranan Senterewe itu sendiri,” tandasnya.

Ditemui terpisah, Kabid Kebudayaan Budpar Tulungagung, Fahreza mengatakan ciri khas yang membedakan Jaranan Senterewe dengan seni Jaranan yang lain adalah dari Sabetan dan geraknya.

“Kita telah mengenalkan tujuh belas gerakan kepada para Seniman yang lazim digunakan, kemudian format pola lantainya sejajar, berhadap-hadapan dan melingkar, kemudian dari bentuk Kepang ukurannya menengah dan pada ekornya juga berbentuk kepang tidak ada rumbai-rumbainya, hanya dibagian kepala saja yang ada rumbainya,” urai Bayu, salah seorang Staf dari Bagian Kebudayaan yang mendampingi Kepala Bidang.

Ia juga menjelaskan perbedaan mencolok Jaranan Senterewe dengan Jaranan Jawa atau Jaranan Pegon terletak pada Paes, paesnya ganteng atau Kesatrian dan dari penyebutan Barongan yang bentuk mitologinya berupa Naga atau Ular, bukan sebutan Singobarong.

Terakhir Dia menjelaskan mengenai gerakan atau tarian Jaranan Senterewe dipengaruhi oleh seni tarian Ludruk, yaitu gerakan tari Remong. (unt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Kami | Pedoman Media Ciber | Disclaimer