Foto: upacara penyambutan jenazah almarhum Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo di Bandara Internasional Dhoho Kediri, Sabtu (7/11).

Kediri – majalahbuser.com, Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa mengikuti upacara penyambutan jenazah almarhum Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo di Bandara Internasional Dhoho Kediri, Sabtu (7/11). Upacara ini merupakan bentuk penghormatan terakhir TNI atas jasa, dedikasi, dan pengorbanan almarhum dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

Jenazah Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo, salah satu prajurit TNI yang gugur dalam kecelakaan helikopter Mi-17V5 HA-5232 saat menjalankan misi kemanusiaan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah.

Helikopter tersebut mengalami musibah pada Rabu (4/11) ketika melaksanakan operasi water bombing di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan.

Jenazah Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo selanjutnya akan diberangkatkan ke kampung halamannya di Trenggalek, Jawa Timur untuk dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Trenggalek.

Sosok Sertu Heri, Prajurit TNI Asal Trenggalek yang Gugur Saat Padamkan Karhutla

Sertu Anumerta Heri Prasetyo, prajurit TNI AD asal Trenggalek, Jawa Timur, dikenal sebagai sosok mandiri sejak kecil, tegas, dan ramah.

Dia menjadi kebanggaan keluarga sebelum gugur dalam kecelakaan helikopter MI-17 HA 5325 saat menjalankan misi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.

Paman Heri, Subekti (46), mengatakan kemandirian sudah terlihat sejak almarhum masih kecil. Kebiasaan tersebut terus melekat hingga dewasa, termasuk saat menjalani kehidupan sebagai prajurit TNI.

Menurut dia, keberhasilan Heri menjadi anggota TNI merupakan pencapaian yang membanggakan bagi keluarga, terutama kedua orang tuanya.

“Heri ini sangat baik. Dia dikenal sebagai seorang yang mandiri, sejak kecil belajar mandiri. Jadi, untuk dia menjadi (TNI) itu sudah bermodal kemandirian,” ujar Subekti usai pemakaman di TMP Trenggalek, Jawa Timur, Sabtu (7/11/2026), dilansir dari Surya.co.id.

Kebanggaan keluarga terhadap Heri kini berganti menjadi kesedihan setelah prajurit tersebut gugur ketika menjalankan tugas negara. Subekti mengaku kehilangan itu sangat dirasakan keluarga, khususnya orang tua almarhum.

“Kalau dengan musibah seperti ini, keluarga terutama orang tua merasa kehilangan sekali,” tuturnya.

Anak sulung yang perhatian kepada adik

Heri merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya baru saja menyelesaikan pendidikan di jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK).

Dia mengetahui bahwa almarhum kerap memberikan uang saku kepada adiknya.

Heri juga pernah berniat membantu adiknya mengikuti jejaknya menjadi anggota TNI. Akan tetapi, rencana tersebut tidak berlanjut karena adanya kendala.

“Selama menjadi anggota, rencananya adiknya itu ingin menjadi TNI. Cuma ada kendala sesuatu, akhirnya berpindah,” jelasnya.

Meski menjalani kedinasan dan tinggal di Semarang, Heri tetap menjaga hubungan dengan keluarga di Trenggalek. Dia biasanya pulang saat Lebaran atau ketika ada acara keluarga, seperti pernikahan kerabat.

Jika memiliki waktu luang, Heri juga menyempatkan diri berkunjung ke rumah keluarga. Kehadirannya selalu dinantikan oleh orang-orang terdekat.

Tegas dan gemar ikuti kegiatan di alam

Subekti menggambarkan Heri sebagai pribadi yang tegas sejak kecil, tetapi tetap ramah kepada lingkungan sekitar.

Almarhum juga tidak banyak bicara dan gemar mengikuti kegiatan di alam terbuka, termasuk mendaki gunung.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Heri memiliki banyak teman. Beberapa di antaranya bahkan sering datang berkunjung ke rumah.

“Untuk kepribadian, dia itu tegas. Memang dari kecil dia tegas, sering ikut kegiatan-kegiatan gunung. Pokoknya dia tegas, terus sama lingkungan juga ramah, tidak banyak bicara. Teman-temannya juga banyak yang sering datang ke rumahnya,” kenangnya.

Selalu menelepon ibu sebelum terbang

Di balik kehidupannya sebagai prajurit, Heri memiliki kebiasaan sederhana yang kini terus diingat keluarga. Dia biasanya menelepon ibunya setiap kali hendak menjalankan tugas penerbangan.

Subekti mengatakan, panggilan tersebut menjadi cara Heri berpamitan sekaligus menenangkan ibunya sebelum bertugas. Kebiasaan itu dilakukan berulang kali selama almarhum menjalani kedinasan.

“Biasanya sebelum-sebelumnya itu jika mau ada acara terbang, selalu menelepon ibunya. Ya, cuma pamit dia mau terbang, membanggakan, menenangkan hati ibunya,” tuturnya.

Namun, kebiasaan tersebut tidak sempat dilakukan Heri sebelum menjalankan misi terakhir di Kalimantan Tengah.

Menurut Subekti, Heri tidak menghubungi ibunya sebelum penerbangan yang berakhir dengan kecelakaan tersebut. Bahkan, keluarga belum mengetahui bahwa almarhum sedang bertugas di wilayah itu.

Kabar kecelakaan helikopter MI-17 yang ditumpangi Heri pun menjadi pukulan berat bagi keluarga. Selain kedua orang tuanya, istri almarhum juga mengalami hal serupa.

Gugur saat menjalankan misi karhutla

Sementara itu, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Tandyo Budi Revita menjelaskan, Heri merupakan satu dari tiga prajurit yang gugur dalam kecelakaan helikopter MI-17 HA 5325 pada 4 November 2026.

Helikopter tersebut telah menjalankan tugas selama kurang lebih tiga bulan di Kalimantan Tengah untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan. Selama penugasan itu, helikopter MI-17 HA 5325 telah melakukan ratusan penerbangan untuk mendukung pemadaman.

“Selama menjalankan misi, helikopter MI-17 HA 5325 telah melaksanakan sebanyak 636 sorti penerbangan,” papar Jenderal Tandyo.

Jika dihitung berdasarkan volume air yang diangkut untuk pemadaman, jumlahnya mencapai sekitar 1,6 juta liter.

“Almarhum menjadi salah satu kru dari helikopter MI-17 dengan nomor penerbangan HA 5325 yang sudah melaksanakan penugasan kurang lebih selama tiga bulan di Kalimantan Tengah untuk penanganan karhutla,” terangnya.

Dari delapan orang yang berada di dalam helikopter saat kecelakaan, lima orang berhasil selamat. Sementara tiga prajurit lainnya gugur, yakni Letkol CPN Anumerta Dudi Firmansyah, Kapten CPN Anumerta Nurhafiz Akbar, dan Sertu Anumerta Heri Prasetyo.

Tandyo menjelaskan, Dudi Firmansyah dan Nurhafiz Akbar ditemukan pada hari pertama kejadian. Adapun Heri baru ditemukan keesokan harinya sekitar pukul 08.30 waktu setempat karena masih terikat sabuk pengaman di dalam helikopter yang mengalami kerusakan parah.

“Pada hari pertama saat kejadian, Letkol Dudi dan Kapten Hafiz bisa ditemukan. Sertu Heri Prasetyo baru ditemukan kemarin kurang lebih pukul 08.30 karena almarhum masih mengenakan safety belt di dalam helikopter tersebut,” jelasnya.

Keluarga Heri dapat Bantuan

Atas gugurnya tiga prajurit tersebut, TNI AD memastikan hak-hak keluarga yang ditinggalkan akan dipenuhi sesuai ketentuan.

Bantuan yang disiapkan antara lain beasiswa pendidikan bagi anak-anak almarhum, santunan dari ASABRI dan TNI AD, serta rumah bagi masing-masing keluarga.

“Apakah itu anaknya yang nanti akan mendapat beasiswa. Dan ASABRI dan nanti dari TNI Angkatan Darat dan di bawah Presiden akan memberikan masing-masing untuk keluarga yang ditinggalkan adalah rumah,” katanya.

Tandyo berharap keluarga para prajurit yang gugur diberi ketabahan dalam menghadapi kehilangan tersebut.

“Kami semua berdoa mudah-mudahan amal baik almarhum diterima oleh Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” tutupnya. (adv/PemkabKediri/Kompas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Kami | Pedoman Media Ciber | Disclaimer