Pengeboran gunung yang dipercaya lokasi akhir dari Bahtera Nuh di Turki. Foto: (Lauren E Witzke/Facebook)

Jakarta – Lokasi Bahtera Nuh tertimbun saat ini masih menjadi spekulasi di berbagai kalangan. Dugaan terkuat saat ini mengarah kepada sebuah gundukan besar berbentuk kapal di dekat Gunung Ararat, Turki.

Bahkan, para peneliti telah mulai mengebor formasi yang dikenal sebagai situs Durupinar tersebut. Mereka berharap akan mendapatkan jawaban dari misi ini.

Direktur Pemasaran dan Penggalangan Dana Proyek Noah’s Ark Scans, Lauren Witzke mengatakan ekspedisi tersebut telah mendapat persetujuan pemerintah Turki dan pengawasan dari universitas-universitas lokal.

“Setelah kita selesai, kurikulum universitas perlu ditulis ulang, dan Darwinisme akan dibongkar,” kata sosok kontroversial dalam politik Amerika Serikat itu, dikutip dari New York Post.

Sementara Witzke menangani publisitas untuk tim tersebut, tim itu mencakup arkeolog dan geolog dari seluruh dunia. Contohnya terdapat Direktur Proyek Dr Cenker Atila dari Universitas Sivas Cumhuriyet Turki.

Asal Mula Gundukan yang Diduga Bahtera Nuh

Sudah ada banyak peneliti telah mengunjungi struktur bahtera ini selama bertahun-tahun. Namun, mereka menarik kesimpulan yang sangat berbeda-beda.

Formasi Durupinar secara resmi ditemukan pada 1959, ketika seorang kapten Angkatan Darat Turki mengabadikannya dalam foto udara saat memetakan daerah tersebut. Para peneliti lokal melakukan survei, penggalian, dan peledakan, tetapi tidak dapat menemukan bukti arkeologis apa pun dan menyimpulkan bahwa formasi tersebut adalah anomali alami.

Sejumlah geolog modern juga setuju, situs tersebut merupakan punggung bukit berbentuk perahu yang terbuat dari batu kapur dan tanah liat vulkanik yang dipahat oleh erosi.

Setelah penyelidikan awal, struktur geologis tersebut terpendam hingga tahun 1980-an. Kemudian, seorang ahli penyelamatan Amerika, David Fasold, menggunakan radar penembus tanah untuk memeriksa situs tersebut dan yakin ia sedang melihat sisa-sisa fosil dek atas kapal.

Fasold mengukur panjang formasi tersebut dan mendapatkan panjangnya 164 meter. Ukuran tersebut diinterpretasikan mendekati panjang bahtera yang digambarkan dalam Kitab Kejadian, yaitu 300 hasta (157 meter).

Ada juga narasi “batu jangkar”, yaitu batu-batu besar yang diukir dan tersebar di barat laut situs tersebut, dengan lubang yang dipotong di ujung atasnya. Fasold meyakininya sebagai jangkar laut kuno, yang terlepas dari bahtera ketika banjir surut.

Namun, sebagian pakar yang skeptis berpendapat bahwa batu-batu tersebut hanyalah penanda peringatan atau batu nisan kuno.

Bertahun-tahun setelah pekerjaannya di Durupinar, Fasold secara terbuka menolak teori bahtera sebagai omong kosong belaka. Namun, teman dan penulis biografinya dari Australia, June Dawes, menyatakan bahwa Fasold meninggal dengan keyakinan telah menemukan bahtera tersebut.

Apa yang Dilakukan dalam Ekspedisi Tahun Ini?

Dalam beberapa tahun terakhir, lokasi tersebut telah diselidiki kembali dengan radar penembus tanah. Lalu, kali ini penyelidikan dilakukan oleh ekspedisi Noah’s Ark Scans. Mereka juga mengklaim telah memetakan bagian yang tampak seperti koridor dan ruang di bawah permukaan, termasuk satu lorong yang membentang lebih dari 250 kaki.

Langkah selanjutnya, mereka akan mengebor celah sempit ke dalam ruang-ruang tersebut dan mengirimkan Gopher. Sebagaimana keterangan dalam laman penggalangan dana misi ini, Gopher adalah robot bawah tanah yang dibangun untuk pergi ke tempat yang tidak dapat dijangkau manusia.

Gopher telah dilengkapi alat untuk mengumpulkan rekaman beresolusi tinggi dan sampel tanah di bawah permukaan. Robot ini dirancang oleh seorang insinyur Australia, Dr Robert Ross dari Universitas La Trobe.

“Robot ini pada dasarnya dimodifikasi berdasarkan robot yang awalnya saya buat untuk ahli ekologi satwa liar untuk menjelajahi liang wombat (WomBot) dan liang armadillo di Guyana Prancis (ArmaBot),” kata Dr Ross kepada news.com.au.

Penggalangan dana Noah’s Ark Scans mengatakan proyek ini membutuhkan 600.000 dolar Amerika Serikat atau Rp 10,75 miliar (nilai tukar Rp 17.914,10) untuk memulai pengeboran. Akan tetapi, rekaman drone yang dibagikan oleh Witzke tampaknya menunjukkan bahwa pengeboran telah dimulai.

Ekspedisi ini sekarang berpacu dengan datangnya musim dingin. Pasalnya, musim dingin akan membekukan tanah dan memaksa para peneliti untuk menghentikan operasi hingga tahun depan. (nah/twu/detik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Kami | Pedoman Media Ciber | Disclaimer