Ilustrasi wisuda (Shutterstock)

MAJALAHBUSER.com – Wisuda kelulusan untuk anak TK, SD, SMP, dan SMA menjadi topik yang ramai dibahas belakangan ini. Keramaian tersebut juga muncul seputar perdebatan apakah anak TK hingga SMA perlu mengadakan acara kelulusan seperti wisuda mahasiswa.

Pembahasan mengenai hal ini sebenarnya telah ramai diperbincangkan pada bulan yang sama tahun lalu.

Sejumlah argumen yang muncul menyebutkan, wisuda menjadi kehilangan maknanya sebab sebelumnya hanya dilakukan di bangku kuliah. Namun, saat ini murid TK hingga SMA juga melakukan wisuda.

Tak hanya itu, muncul pula nada penolakan mengenai wisuda yang dilakukan bagi anak TK hingga SMA karena dinilai pemborosan dan dapat membebani orangtua. Bahkan ada sampai meminta kementerian untuk melarang “wisuda” bagi anak TK dan SMA.

Lalu, bagaimana tanggapan Kemendikbud Ristek terkait wisuda jenjang TK hingga SMA yang mulai marak belakangan ini?

Tanggapan Kemendikbud Ristek

Plt. Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud Ristek Anang Ristanto buka suara terkait polemik wisuda jenjang sekolah. Menurut Anang, kegiatan wisuda dari jenjang PAUD/TK, SD, SMP, hingga SMA merupakan kegiatan yang opsional.

Pihaknya menjelaskan, Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 menyebutkan bahwa kegiatan bersama antara satuan pendidikan yang melibatkan orangtua harus didiskusikan dengan komite sekolah.

“Kemendikbud Ristek mengimbau agar pihak sekolah dapat berkomunikasi dan bekerja sama dengan komite sekolah dan persatuan orangtua murid dan guru (POMG),” kata Anang kepada wartawan, Selasa (13/6/2023).

Menurutnya, hal ini dilakukan untuk menentukan pilihan yang terbaik untuk setiap sekolah yang tentu tidak membebani pihak orangtua.

Wisuda Jangan Memberatkan Orangtua

Menurut pengamat pendidikan sekaligus pendiri Ikatan Guru Indonesia (IGI) Satria Dharma, pelaksanaan wisuda memang sebaiknya tidak membebani wali murid.

“Sekolah tidak boleh memaksakan program wisuda tersebut karena memang memberatkan orangtua,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (13/6/2023).

Dia mengatakan, komite sekolah dan kepala sekolah hanya boleh melaksanakan wisuda jika orangtua murid menyatakan mampu dan bersedia.

Wisuda Untuk Lulusan Kuliah

Sementara itu, pengamat pendidikan Ina Liem membenarkan jika wisuda memang lebih umum diadakan untuk lulusan perguruan tinggi. Hal itu sebagai tanda tuntas pendidikan formal dan seseorang akan memasuki dunia kerja.

Menurut Ina, wisuda merupakan bentuk penghargaan atas kerja keras para pelajar yang menyelesaikan pendidikan dari sekolah dasar hingga pendidikan tinggi.

Meski begitu, ia menyebut, wisuda tingkat sekolah baru menjadi kebiasaan di Indonesia mulai tahun 2000-an.

“Awalnya sepertinya untuk lucu-lucuan saja. Anak-anak TK pakai topi wisuda difoto lucu, tapi makin lama makin heboh,” lanjutnya.

Menurut Ina, pelaksanaan wisuda seharusnya cukup diadakan secara meriah setelah anak lulus kuliah. Dia beralasan, wisuda berlebihan di tahapan TK, SD, SMP, dan SMA berpotensi menurunkan makna kerja keras jangka panjang.

Wisuda sekolah tidak boleh berlebihan

Ina menuturkan, wisuda tingkat sekolah diadakan untuk menghargai usaha anak selama sekolah maupun keinginan orang tua. Ia tidak melarang pelaksanaan selebrasi tersebut. Namun, seharusnya tidak perlu berlebihan dan jangan hanya seremonial.

“Harusnya lebih menampilkan aksi nyata para siswa selama di bangku pendidikan, dampaknya apa bagi sekitarnya,” lanjutnya.

Menurut Ina, ini bisa lebih memberikan kepuasan atas pencapaian dan memotivasi siswa berkarya di jenjang selanjutnya. Selain itu, acara wisuda sebaiknya dilakukan sederhana. Tidak perlu sewa kostum wisuda, bahkan sewa ruangan hotel.

“Mari berlomba karya dan dampak sosial, bukan berlomba kemewahan dan kemeriahan acara kelulusan,” ungkapnya.

Menciptakan kenangan anak-anak

Di sisi lain, wisuda bagi anak-anak mulai dari TK hingga SMA menurut sebagian orangtua memiliki nilai positif. Terutama untuk menciptakan kenangan sekali seumur hidup.

Sejumlah pendapat diungkapkan orangtua terkait wisuda yang dilakukan oleh lulusan TK.

Caroline, ibu dari Jeannice Emily (6 tahun) melihat acara wisuda anaknya di TK Yunike Andreas, Tangerang sebagai sebuah kesempatan untuk menciptakan sebuah kenangan.

Menurut Caroline, meskipun bukan wisuda seperti lulus perguruan tinggi, namun tetap ada rasa bangga dan haru melihat Jennice berfoto menggunakan toga.

Baginya, hal ini menjadi kenangan tersendiri bagi orangtua bahwa anaknya telah melewati satu tahap dalam pendidikan mereka.

Hal senada disampaikan Martino Manjaya, ayah dari Agustinica Aniva (6 tahun) dari Balloon Kindergarten, Makassar.

“Acara wisuda di sekolah anak kami dikenal dengan sebutan ‘penamatan’. Acara ‘penamatan’ atau wisuda ini diisi dengan acara berfoto memakai toga dan juga pentas seni,” kata Martino dikutip dari Kompas.com (8/6/2018). (Kompas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Kami | Pedoman Media Ciber | Disclaimer