Foto: pembukaan Santrifest 2026 dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional di halaman Kantor Pemkab Tulungagung, Hari Sabtu (17/10)

Tulungagung – majalahbuser.com, Menyambut peringatan Hari Santri Nasional 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung menggelar Santrifest 2026 di halaman Kantor Pemkab Tulungagung, Hari Sabtu (17/10)

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 17–18 Oktober 2026, tersebut menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari festival musik band, festival Sholawat, fashion show Muslimat, hingga bazar Usaha Mikro, kecil, dan Menengah (UMKM).

Selain menjadi ajang kreativitas santri dan masyarakat, Santrifest 2026 juga menghadirkan layanan publik dari sejumlah instansi, di antaranya Polres Tulungagung, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), serta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Tulungagung.

Ketua Panitia Santrifest 2026, Dr. K.H. Bagus Ahmadi, M.Sy., M.Pd.I., dalam laporannya menyampaikan bahwa bazar UMKM diikuti 40 stan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Baznas, Majelis Wakil Cabang (MWC), ranting, hingga badan otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Tulungagung.

Ia berharap, Santrifest dapat terus dikembangkan dan diselenggarakan dengan lebih meriah pada tahun-tahun mendatang. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi salah satu upaya memperkuat identitas Tulungagung sebagai Kota Santri.

“Harapannya, ke depan Santrifest dapat digelar lebih semarak dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, sekaligus memperkuat citra Tulungagung sebagai Kota Santri,” ujarnya.

Sementara itu, Plt. Bupati Tulungagung yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Ir. Mulyanto, S.PT., M.M., saat membacakan sambutan sekaligus membuka kegiatan, menegaskan bahwa Santrifest bukan sekadar perayaan untuk memeriahkan Hari Santri Nasional, melainkan ruang bagi para santri untuk menunjukkan potensi, kreativitas, dan kemampuan mereka.

Menurutnya, santri tidak hanya dikenal sebagai generasi yang mendalami ilmu agama di lingkungan pesantren, tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi generasi kreatif, inovatif, berprestasi, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Ia menambahkan, santri harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Nilai-nilai keislaman, akhlakul karimah, serta tradisi pesantren harus tetap menjadi landasan dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan.

“Generasi masa depan tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki akhlak mulia dan kepedulian sosial yang tinggi,” demikian pesannya yang disampaikan dalam sambutan tersebut.

Melalui momentum Santrifest 2026, Pemkab Tulungagung berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai perayaan seremonial. Lebih dari itu, Santrifest diharapkan mampu melahirkan gagasan baru, karya yang bermanfaat, serta gerakan positif yang dapat mengangkat nama pesantren dan Kabupaten Tulungagung.

Foto: Staf Ahli Bupati Tulungagung Mulyanto (baju Batik) dan Kabag Kesra, Makrus Manan pada Santrifest 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri Rektor UIN Tulungagung, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), perwakilan Baznas, lembaga keagamaan NU dan Muhammadiyah, tokoh agama, serta para kiai dan Ibu nyai pimpinan pondok pesantren di Kabupaten Tulungagung.

Di tempat yang sama, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Tulungagung, M. Makrus Manan, menjelaskan bahwa Santrifest 2026 dirancang untuk menampilkan berbagai potensi santri dan lingkungan pesantren melalui kegiatan keagamaan, seni, budaya, serta pemberdayaan ekonomi.

Sejumlah agenda yang ditampilkan meliputi bazar UMKM, festival musik band, festival selawat, dan fashion show Muslimat.

Menurut Makrus, penyelenggaraan Santrifest merupakan bentuk keterlibatan pemerintah daerah dalam mendukung peringatan Hari Santri Nasional sekaligus memberikan ruang bagi santri untuk menunjukkan kemampuan di luar kegiatan pembelajaran agama.

“Santri tidak hanya belajar mengaji di pondok pesantren, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berwirausaha. Harapannya, melalui kegiatan ini, santri semakin mandiri dan mampu mengembangkan potensi ekonominya,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembinaan terhadap UMKM yang tumbuh di lingkungan pondok pesantren terus dilakukan pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Tulungagung.

Melalui bazar tersebut, produk-produk hasil usaha pesantren dan koperasi diperkenalkan secara langsung kepada masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat memperluas pemasaran, meningkatkan daya saing produk, serta membuka peluang pengembangan usaha bagi pelaku UMKM berbasis pesantren.

“Makanya hari ini kita tunjukkan dan perkenalkan kepada masyarakat bahwa di pondok-pondok pesantren dan koperasi terdapat kegiatan produksi UMKM. Kami mengajak masyarakat untuk mendukung dan mengembangkan potensi tersebut melalui kegiatan bazar ini,” tandasnya.

Dilokasi yang sama, Rektor UIN Tulungagung, Prof. Dr. H. Abdul Azis, M.Pd.I., yang diwawancarai Majalahbuser.com, menilai Santrifest 2026 juga memiliki nilai edukatif bagi dunia pendidikan, khususnya mahasiswa.

Menurutnya, kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung dapat menjadi laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa untuk menerapkan teori yang diperoleh di bangku kuliah, sekaligus mengasah kemampuan berorganisasi dan membangun interaksi sosial.

Ia berharap, kegiatan serupa dapat terus ditingkatkan pada masa mendatang. Peringatan Hari Santri, menurutnya, tidak cukup hanya dilaksanakan melalui kegiatan seremonial, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. (unt/adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Kami | Pedoman Media Ciber | Disclaimer