Foto: Pernyataan Presiden Joko Widodo Terkait Tindak Kekerasan di Gaza, Riyadh, 19 Oktober 2023. (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta – Tahun depan, Joko Widodo (Jokowi) akan meninggalkan kursi Presiden Indonesia. Media ekonomi asal London Inggris, The Economist menyoroti beberapa hal selama Jokowi memimpin dan masa depan Indonesia setelah dia lengser.

Laman tersebut menuliskan artikel dengan judul What will Indonesia look like after Jokowi leaves?. Tulisannya dimulai dengan Indonesia saat Jokowi memimpin dan digambarkan sebagai ‘negarawan global’.

“Ia menjadi tuan rumah bagi para pemimpin dari seluruh kawasan pada KTT Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Jakarta pada tanggal 5 hingga 7 September,” tulis The Economist, dikutip Minggu (22/10/2023).

“Pada bulan Agustus ia mengantongi kesepakatan ekonomi selama tur di Afrika. Dia menghadiri KTT para pemimpin G20 di Delhi pada tanggal 9 September, setelah menjadi tuan rumah acara tahun lalu, dan juga berencana untuk mengunjungi Arab Saudi dalam waktu dekat,” imbuh The Economist.

The Economist juga menyoroti kesan Jokowi di dalam negeri. Dengan tutur perilaku dengan gayanya yang lembut dan sederhana, dia disebut banyak disukai.

“Gaya Jokowi yang lembut dan sederhana menjadikan Jokowi, begitu ia disapa, menjadi salah satu pemimpin yang paling disukai di dunia. Peringkat persetujuannya berkisar sekitar 80%,” jelas The Economist lagi.

Bahkan The Economist menyamakan pencapaian tersebut hanya bisa didekati oleh Perdana Menteri India, Narendra Modi.

Spekulasi siapa pengganti Jokowi nantinya juga jadi pertanyaan. Termasuk apakah ekonomi terus tumbuh di masa depan dan penggantinya bisa meneruskan kebijakan yang telah dibuat pemerintah saat ini.

“Namun ada tiga ketidakpastian besar yang menghantui warisannya: apakah perekonomian Indonesia akan terus tumbuh, apakah penggantinya akan mempertahankan kebijakannya, dan apakah negara tersebut dapat mempertahankan tindakan penyeimbangan di dunia yang terpecah,” terang laman itu.

Rekor Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi yang dilakukan selama era Jokowi dinilai cukup baik. The Economist menyebutkan Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan tercepat kelima di antara 30 negara ekonomi besar dunia sejak menjabat 2014 lalu.

Sejak 9 tahun lalu, PDB dilaporkan meningkat kumulatif sebesar 43%. Bahkan IMF memproyeksikan pencapaian itu bisa terus melaju.

“Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pembangunan infrastruktur yang sangat besar. Negara terpadat keempat di dunia ini terdiri dari lebih dari 13.000 pulau, banyak di antaranya tidak memiliki fasilitas dasar,” muat media itu.

“Sering digambarkan dalam topi keras, Jokowi telah membangun bandara, pelabuhan, pembangkit listrik, bendungan dan telah membangun ribuan kilometer jalan raya dan jalur kereta api. Dia telah menggunakan popularitasnya untuk membujuk partai-partai politik, badan usaha milik negara, dan para taipan berpengaruh di negaranya”.

Nusantara

Ibu kota baru (IKN) yang bernama Nusantara juga disoroti The Economist. Proyek itu disebut jadi strategi Jokowi dan sorotan akankah ketidakpastian karena pemilu bisa membuat proyeknya berhasil.

The Economist menuliskan Jokowi berpendapat pentingnya IKN, karena seperempat ibu kota saat ini Jakarta akan tenggelam pada 2050. Namun proyek itu, dinilai para kritikus tidak realistis.

“Para kritikus mengatakan proyek senilai US$34 miliar, yang akan selesai pada tahun 2045, tidak realistis. Pemerintah mengatakan akan menanggung 20% dari biaya yang diproyeksikan, dan sisanya didanai oleh investor dalam dan luar negeri,” muatnya.

“Namun, lebih dari empat tahun setelah proyek tersebut diumumkan, tidak ada satupun investor asing yang menandatangani kontrak yang mengikat untuk mendanai kota tersebut,” katanya.

China dan AS

Soal investor, Jokowi dilaporkan sebagai sosok yang dapat menarik pihak asing dalam mendukung sejumlah proyek tanah air. The Economist mencatat investasi asing mencapai US$45 miliar tahun 2022, atau naik 45% dari tahun sebelumnya.

Sebagian besar investasi datang dari China dan mengalir ke pertambangan dan pengolahan nikel, cadangan logam terbesar di dunia, yang penting untuk memproduksi baterai kendaraan listrik. Ketergantungan pada China juga membuat Indonesia terbatas melakukan manuver geopolitik.

“Meskipun merupakan negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia tetap bungkam mengenai penganiayaan terhadap warga Uighur, kelompok etnis Muslim dominan yang berasal dari wilayah Xinjiang, China karena takut akan dampak ekonominya,” muatnya lagi.

Selain itu hubungan dengan Amerika Serikat (AS) juga disoroti. Eratnya hubungan dengan China, membuat Jokowi kesulitan memiliki kesepakatan dengan Gedung Putih.

“Indonesia sangat menginginkan kesepakatan perdagangan dengan Amerika yang mencakup logam agar penjualan nikel Indonesia di Amerika menjadi lebih murah dan tidak terlalu bergantung pada China. Namun pemerintah Amerika mengkhawatirkan dominasi Tiongkok dalam industri nikel di Indonesia, sehingga kesepakatan masih sulit dicapai,” tulisnya.

Capres Baru

The Economist juga menuliskan profil calon presiden tahun depan. Salah satunya Prabowo Subianto yang pernah dua kali kalah dari Jokowi pada dua pemilu sebelumnya.

“Prabowo merupakan figur yang dituduh membiarkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia di Timor-Leste pada tahun 1980an, namun ia membantah keras hal tersebut. Ia menekankan nasionalismenya, mendukung otonomi pangan, dan mengkritik praktik pemilu langsung di Indonesia,” tulis media itu.

Kedua adalah mantan gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Dia telah menunjuk Arsjad Rasjid yang merupakan ketua KADIN, sebagai ketua kampanyenya, dan menjadi sinyal keseriusannya dalam bidang ekonomi.

“Menunjukan bahwa ia mungkin lebih serius dibandingkan dengan Prabowo mengenai reformasi ekonomi,” tulis laman itu.

Berikutnya adalah Anies Baswedan. Mantan gubernur Jakarta dan mantan menteri pendidikan kabinet Jokowi memiliki suara yang jauh di belakang dua kandidat lainnya.

Anies sempat kalah pada putaran pertama pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Namun akhirnya menang di putaran kedua yang didukung pemilih Islam Konservatif.

“Baru-baru ini ia mendapatkan dukungan dari organisasi masyarakat sipil Muslim terbesar di negara tersebut, sebuah blok pemungutan suara yang penting, yang membuka kemungkinan terjadinya persaingan tiga pihak,” tambah media itu.

Arah kebijakan ketiganya juga ikut disorot media tersebut. Ganjar dan Prabowo kemungkinan akan mempertahankan kebijakan Jokowi, termasuk larangan ekspor bahan mentah dan IKN.

Mengutip penulis biografi Jokowi, Ben Bland, kemenangan bukan pada sosok yang akan melanjutkan kebijakan Jokowi. Dukungan Jokowi akan membantu kandidat manapun, namun tidak menjamin pemenangnya akan mempertahankan warisannya.

“Pemilu di Indonesia lebih mementingkan kepribadian dibandingkan kebijakan,” pungkasnya. (luc/luc/CNBC Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Kami | Pedoman Media Ciber | Disclaimer