
Jakarta – Usia Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa menjadi sorotan. Apakah usia kapal itu berkontribusi terhadap kecelakaan maut itu?
Berdasarkan catatan Kompas.com, kapal tersebut kini menginjak usia 39 tahun sejak dibangun di Jepang pada 1987.
Kapal bernama Ferry Kurushima ini kemudian dijual kepada PT Virgo Karya Shipping. Sejauh ini, kapal tersebut sudah berlayar selama 11 bulan di Indonesia.
Apakah usia kapal menjadi faktor penentu dalam keselamatan pelayaran?
Peneliti Senior Inisiatif Strategis Transportasi (Instran), Deddy Herlambang, mengemukakan, usia kapal tidak selalu menjadi penyebab kecelakaan, utamanya bila docking-nya tepat dan telah mengikuti prosedur operasi standar/SOP.
Docking adalah proses memasukkan kapal ke galangan untuk menjalani perawatan.
“Sebenarnya usia kapal tidak selalu menjadi penyebab. Selama 38 tahun berlayar di Jepang kapal ini baik-baik saja, tidak pernah mengalami kerusakan,” kata Deddy kepada Kompas.com, Selasa (15/9/2026).
Senada, Anggota Ombudsman RI, Robert Na Endi Jaweng menyatakan, usia kapal memang menjadi faktor penting yang tidak boleh luput dalam pemeriksaan. Akan tetapi, kapal tua tidak selalu berarti tidak layak.
Masalahnya utamanya kata dia, tetap ada pada pengawasan otoritas terkait.
“Kapal tua tidak selalu berarti tidak layak. Masalah utama dalam pelayanan publik adalah apakah negara lewat mekanisme pengawasan yang ada benar-benar memastikan kapal itu aman dipakai masyarakat,” ucap Robert.
Pastikan kondisinya
Kendati begitu, Robert mengingatkan, kapal-kapal tua harus dipastikan keamanannya lebih ketat. Utamanya ketika jarak tempuh kapal tersebut jauh berbeda dengan jarak sebelumnya.
Dalam kap Virgo, misalnya, otoritas perlu melihat kesanggupan kapal jika menempuh jarak sekian mil laut, sekaligus mencocokkan jaraknya ketika dioperasikan di Jepang.
“Kalau kapal yang sudah hampir empat puluh tahun dipakai di rute yang berbeda, tentu harus dipastikan kondisi teknis, pemeliharaan, stabilitas, kapasitas, dan kecocokannya dengan karakteristik rute sudah diperiksa dengan baik,” tutur Robert.
Robert menekankan, hal ini penting untuk memastikan masyarakat mendapat keselamatan yang layak.
Ia tidak ingin harga yang dibayar mahal oleh masyarakat tidak termasuk risiko yang mengintai mereka.
“Ini penting bagi Ombudsman. Jangan sampai masyarakat membayar dan memakai layanan transportasi, tetapi pada saat yang sama justru menanggung risiko yang seharusnya jadi tanggung jawab penyelenggara dan regulator,” tegasnya.
Ia lalu meminta semua pihak bertanggung jawab jika kecelakaan terjadi karena minimnya pengawasan.
“Kalau ada celah dalam pengawasan atau pelayanan yang membuat risiko itu tidak dicegah, di situ aspek maladministrasi dan tanggung jawab pelayanan publik perlu diperiksa,” tandasnya.
Tergantung pemeliharaan
Sementara itu, praktisi kepelabuhan dan logistik nasional, Bambang Sabekti menyampaikan, usia kapal tua bukan berarti tidak aman. Keamanannya bergantung pada pemeliharaan.
“Banyak kapal berumur panjang tetap beroperasi dengan selamat karena pemeliharaan dan pengawasan yang baik,” katanya dalam Kolom Kompas.com.
Ia lantas memaparkan beberapa kecelakaan kapal yang terjadi belakangan atau sekitar dua bulan sebelumnya.
Pertama, KLM Nurul Salsa yang tenggelam di Kepulauan Selayar setelah mengalami mati mesin dan kerusakan pompa air. Kemudian KM Prince Soya yang terbakar saat bersandar di Pelabuhan Samarinda.
Selanjutnya ada KMP Mutiara Sentosa II terbakar di perairan utara Sumenep, Madura; serta KMP Putri Yasmin terbakar di Selat Lombok.
“Tiga dari lima kejadian merupakan kebakaran yang berkaitan dengan kendaraan atau aktivitas di dek muatan. Sedikitnya dua kapal yang terlibat merupakan kapal bekas dari Jepang yang berusia lebih dari tiga dekade ketika kembali beroperasi di Indonesia,” tuturnya.
Dia menekankan, pola tersebut semestinya menjadi sinyal bagi regulator untuk memeriksa apakah ada faktor risiko yang sama, yang mungkin belum ditangani secara memadai.
Menurut Bambang, pertanyaan tersebut hanya dapat dijawab melalui data dan investigasi resmi, bukan spekulasi.
“Bangsa yang maju bukan bangsa yang tidak pernah mengalami kecelakaan, melainkan bangsa yang mampu belajar dari kecelakaan sehingga kejadian serupa tidak terus berulang” tegasnya.
Lebih lanjut, ia meminta pemerintah melihat kembali apakah langkah korektif saat ini sudah efektif atau sebaliknya. Ia menekankan, kapal yang memiliki sertifikat dan dokumen lengkap belum tentu berarti seluruh risikonya telah terkendali.
“Kasus Mutiara Sentosa II dan Virgo Transport 8 menunjukkan pentingnya melihat kembali profil risiko kapal ketika berpindah negara, kepemilikan, rute, awak, dan lingkungan operasi,” tegasnya.
Pernyataan Menhub
Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwaghandi memastikan Kapal Virgo Transport 8 tidak mengalami kelebihan kapasitas saat kecelakaan di perairan Masalembo, Laut Jawa.
Kapal tersebut membawa 243 penumpang dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin. Sementara itu, kapasitas maksimal Kapal Virgo Transport 8 mencapai 500 orang.
“Kapasitas penumpang juga untuk Kapal Virgo Transport 8 berada di 500 orang, jadi masih jauh dari kapasitas maksimalnya,” kata Dudy dalam konferensi pers perkembangan operasi SAR kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (14/9/2026).
Kendati demikian, ia menyatakan akan melakukan investigasi menyeluruh insiden tersebut.
“Proses tersebut akan dilaksanakan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sesuai dengan kewenangannya,” tegasnya.
Ia pun meminta semua pihak memberi waktu bagi KNKT untuk bekerja secara independen, serta berbasis data serta fakta untuk memastikan penyebab kecelakaan secara objektif.
Nantinya, hasil investigasi akan menjadi dasar evaluasi keselamatan transportasi.
129 Orang masih hilang
Berdasarkan data terbaru Basarnas pada Selasa (15/9/2029) siang, masih ada 129 orang yang hilang dari kecelakaan kapal Virgo.
Ada 114 penumpang dari total 243 orang si atas kapal berhasil dievakuasi dan telah tiba seluruhnya di Banjarmasin.
Rinciannya, 108 orang tiba dalam kondisi selamat dan 6 lainnya meninggal dunia.
Proses pencarian dan pertolongan masih berlangsung untuk menemukan penumpang yang belum dievakuasi. Saat ini, tim SAR gabungan masih menyisir kawasan perairan tempat KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan. (kompas)