
Wonogiri – Puluhan makam kuno di Desa Kenteng, Kelurahan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, kembali bermunculan saat air Waduk Gajah Mungkur (WGM) surut akibat kemarau panjang.
Makam-makam tersebut memiliki bentuk yang hampir sama, yakni berupa batu kapur berwarna putih dengan ukuran sekitar 1 hingga 1,5 meter.
Salah seorang warga setempat, Basuki (54), menuturkan, makam-makam kuno itu mulai bermunculan sejak akhir Agustus 2026.
“Mulai kelihatan sebagian. Tapi untuk semuanya mungkin dari September, Oktober itu sudah kelihatan semuanya. Nanti mungkin Desember sudah mulai tergenang air lagi,” ujar Basuki saat ditemui di Makam Kenteng, Sabtu (12/9/2026).
Puluhan makam kuno tersebut diperkirakan akan kembali tergenang air saat musim penghujan tiba pada akhir tahun.
Di Wuryantoro, makam-makam kuno ini tersebar di beberapa titik. Salah satu yang telah terlihat ke permukaan adalah pemakaman umum yang dikenal dengan nama Makam Kenteng.
“Ya mungkin ratusan mungkin ya, atau ribuan mungkin. Ini termasuk makam yang pertama kali mungkin di lingkungan Wuryantoro, di sini nih pemakamannya,” terangnya.
Makam ikut tenggelam saat pembangunan waduk
Makam Kenteng dulunya berada di antara permukiman warga yang ikut tenggelam saat Waduk Gajah Mungkur mulai dibangun pada 1978.
“Kan dulu tempat penduduk, jadi masyarakat di wilayah di sini itu sebelum ada waduk Gajah Mungkur, ini semua termasuk desa-desa ini.”
“Jadi ini ada makam-makam wilayah-wilayah. Banyak sekali, itu kalau diteliti mungkin ratusan makam lebih itu sekitar Waduk Gajah Mungkur,” ungkap dia.
Waduk Gajah Mungkur telah menenggelamkan puluhan desa yang dihuni ribuan warga. Saat itu, Basuki masih berusia 7 tahun. Ia turut menyaksikan proses bedhol desa atau pemindahan penduduk secara massal.
“Saya masih kecil waktu itu, tahun 80-an mungkin ini sudah kosong, warga masyarakat sebagian ya transmigrasi ke mungkin luar pulau Jawa, yang banyak itu di Baturaja atau di Lampung, mungkin di Ketaun, itu ada beberapa tempat yang ditransmigrasikan era zaman Orde Baru dulu,” ungkap Basuki.
Sebagian kerangka telah dipindahkan oleh keluarga pemilik makam saat air waduk surut ke pemakaman terdekat. Namun, sebagian lainnya masih berada di dalam tanah dan ikut tenggelam di area tengah waduk.
“Ini masih banyak yang masih ada jenazahnya, masih banyak. Itu yang dipindahkan ada tapi sebagian, tapi banyak yang tidak dipindahkan untuk saat ini,” jelasnya.
Warga yang telah meninggalkan Wuryantoro dan pindah ke luar Jawa memilih tidak memindahkan makam sanak saudaranya.
“Ya mungkin keluarganya itu sudah pindah tempat jauh jadi mungkin nggak sempat atau mungkin terbentur dengan biaya dan lain sebagainya, mungkin seperti itu,” katanya.
Jarak antara puluhan makam kuno yang telah bermunculan dan makam yang masih tenggelam diperkirakan sekitar puluhan meter.
“Mungkin dari sini ya 20 meteran, kurang lebih, ke selatan itu menuju 20 meteran untuk kelihatan semuanya. Mungkin untuk bulan Oktober ini mungkin udah, Oktober akhir mungkin sudah kelihatan semua untuk makam di sekitar sini,” terangnya.
Selain di Kenteng, puluhan makam kuno juga telah bermunculan di wilayah Pondok.
“Mungkin yang banyak sementara ini ya Kenteng, untuk Wuryantoro loh, itu Kenteng dan Pondok itu mungkin banyak sekali. Maksudnya di sini kan istilahnya pertengahan kota, perkotaan Wuryantoro, perkotaan Wuryantoro itu penduduknya lebih padat waktu itu. Makanya pemakamannya mungkin lebih banyak kalau di sini,” katanya. (kompas)