9 Relawan Global Sumud Flotilla asal Indonesia yang ditangkap oleh tentara Israel, Rabu (20/5/2026). (Dok. Global Peace Convoy Indonesia)

Jakarta – Sembilan warga negara Indonesia (WNI) aktivis Global Sumud Flotilla yang bebas dari penahanan Israel dijadwalkan tiba di Indonesia pada Minggu (24/5/2026) sore.

“Sembilan WNI akan tiba tanggal 24 Mei pukul 15.30 WIB,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Vahd Nabyl Mulachela, kepada Kompas.com, Sabtu (23/5/2026).

Sembilan WNI itu terdiri dari jurnalis dan relawan yang menjalankan misi kemanusiaan mengantarkan bantuan untuk Gaza Palestina.

Mereka semua akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Provinsi Banten.

Turki bantu kepulangan

Pemerintah Republik Turkiye turut memfasilitasi pesawat untuk kepulangan para relawan Global Sumud Flotilla, termasuk untuk sembilan warga negara Indonesia (WNI).

“Turkiye telah mengirimkan tiga pesawat yang disediakan oleh Turkish Airlines untuk kepulangan yang aman bagi seluruh anggota Organisasi Non-Pemerintah dari 41 negara yang berpartisipasi dalam Global Sumud Flotilla,” tulis Duta Besar Turkiye untuk Indonesia, Talip Kucukcan, dalam keterangan persnya, Jumat (22/5/2026).

Pemerintah Turkiye dalam keterangannya, mengatakan sembilan WNI dalam kapal Global Sumud Flotilla yang sempat ditahan oleh pasukan keamanan Israel telah tiba di Istanbul dengan selamat pada tanggal 21 Mei 2026.

Talip Kucukcan menegaskan negaranya mendukung proses repatriasi warga negara Indonesia dan menyediakan semua fasilitas yang diperlukan.

Pemerintah Turkiye menyatakan, 422 relawan bantuan kemanusiaan telah dipulangkan dengan selamat dan cepat.

Dia menyampaikan bahwa sembilan WNI yang sempat ditahan juga telah kembali ke Turkiye dengan selamat dan bertemu pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Istanbul.

Nama-nama sembilan WNI yang sempat ditahan Israel itu adalah sebagai berikut:

  1. Andi Angga Prasadewa dari Kapal Josef
  2. Rahendro Herubowo dari Kapal Ozgurluk
  3. Andre Prasetyo Nugroho dari Kapal Ozgurluk
  4. Thoudy Badai dari Kapal Ozgurluk
  5. Bambang Noroyono (Abeng) dari Kapal BoraLiz
  6. Herman Budianto Sudarsono dari Kapal Zapyro
  7. Ronggo Wirasanu dari Kapal Zapyro
  8. Asad Aras Muhammad dari Kapal Kasr-1
  9. Hendro Prasetyo dari Kapal Kasr-1

Ditangkap Israel

Sembilan WNI yang terdiri dari empat jurnalis dan lima aktivis ditangkap tentara Israel saat menjalankan misi pelayaran kemanusiaan bersama Global Sumud Flotilla 2.0.

Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia, Rabu (20/5/2026), sembilan WNI tersebut telah mengirimkan pesan darurat (SOS) berupa video pernyataan mereka ditangkap.

Mereka ditangkap pada waktu yang berbeda. Andi, Rahendro, Andre, Thoudy dan Abeng ditangkap pada Senin (18/5/2026).

Herman dan Ronggo sebetulnya sempat menyatakan diri lolos dari intersepsi Israel pada saat lima WNI lainnya ditangkap.

Mereka menyatakan, manuver dari kapten kapal yang ditumpangi berhasil membuat tentara Israel tak mampu mengejar.

Namun, beberapa jam kemudian ia ikut ditangkap pada Selasa (19/5/2026) waktu setempat.

Empat jam berselang, Asad dan Hendro turut mengunggah pesan darurat yang menyatakan diri mereka ditangkap oleh tentara Israel.

Pemerintah langsung bergerak

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, menyampaikan bahwa pemerintah memaksimalkan jalur diplomatik yang ada demi menyelamatkan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap Israel.

Juru Bicara Kemenlu Yvonne Mewengkang di Kantor Kemlu, Jakarta, Kamis, (30/4/2026).

“Seluruh jalur diplomatik dan langkah kekonsuleran akan terus dimaksimalkan guna memastikan pelindungan penuh bagi para WNI dan mereka dapat kembali dengan selamat,” kata Yvonne Mewengkang dalam keterangan resmi, Rabu (20/5/2026).

“Kementerian Luar Negeri bersama Perwakilan RI terus melakukan pendekatan intensif dengan otoritas setempat dan seluruh pihak terkait untuk memastikan pelindungan ke-9 WNI tersebut,” kata Yvonne.

Sementara, Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengapresiasi keberanian para WNI yang tergabung dalam misi pelayaran kemanusiaan bersama Global Sumud Flotilla 2.0 ke Gaza, Palestina.

“Saya yakin mereka juga memahami risiko ini, risiko yang mereka ambil, saya apresiasi courage-nya, keberaniannya.” kata Menlu Sugiono di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

“Dan kita berharap tujuan untuk menyampaikan bantuan kemanusiaan ini bisa terus terlaksana lewat berbagai jalur dan berbagai sumber,” ucapnya.

Sugiono menilai para aktivis dan jurnalis dari Indonesia itu sudah tahu risiko yang dihadapi ketika berangkat, namun semangat kemanusiaan untuk menembus blokade bantuan ke Gaza membuat mereka menjadi berani.

“Saya kira ini juga merupakan satu bentuk semangat serta, serta dukungan yang diberikan terhadap kemerdekaan Palestina dan membantu meringankan penderitaan saudara-saudara kita yang ada di Gaza, sebuah misi kemanusiaan yang seharusnya mendapatkan support dan apresiasi,” ujar Sugiono.

Saat itu, Sugiono memastikan Kemenlu telah memonitor situasi sembilan WNI yang ditangkap militer Israel itu.

Indonesia, kata dia, telah berkomunikasi dengan Yordania, Turkiye, dan Mesir untuk memastikan keberadaan WNI yang ditangkap, mulai dari posisinya, hingga keadaan terkini.

Selain itu, Indonesia juga memohon kepada Yordania dan Turkiye untuk berkomunikasi dengan Israel, mengingat mereka bisa melakukannya.

Indonesia diketahui tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

“Menyampaikan lewat teman-teman kita, Jordan, lewat Turki, yang bisa berkomunikasi langsung dengan Israel untuk memastikan bahwa warga negara kita diperlakukan dengan baik,” kata Sugiono.

“Kemudian diproses secepat-cepatnya untuk segera bisa kembali atau bisa dideportasi ke Indonesia dalam keadaan sehat dan tidak kurang satu apapun,” imbuhnya. (kompas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Kami | Pedoman Media Ciber | Disclaimer