Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan kilang modernisasi kilang minyak atau Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). (YouTube Sekretariat Presiden)

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa banyak direksi badan usaha milik negara (BUMN) yang tidak bekerja dengan baik, tapi malah meminta tantiem atau bonus tahunan.

Pernyataan itu disampaikannya saat peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur pada Senin (12/1/2026).

Ia menuturkan, telah meminta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) untuk melakukan perbaikan pada perusahaan-perusahaan pelat merah. Sebab, banyak BUMN tidak berkinerja baik.

“Terlalu banyak pengalaman kita. Direksi-direksi BUMN, saya katakan saja, tidak baik,” ujar Prabowo.

Dia pun mengaku heran karena para direksi dari perusahaan-perusahaan yang mencatatkan kinerja rugi, justru tetap meminta diberikan tantiem.

“BUMN sangat banyak yang rugi. Sudah rugi, minta tantiem lagi. Tidak tahu malu. Dablek menurut saya,” ucapnya.

Prabowo pun menegaskan, jika direksi BUMN tidak bersedia atau tidak sanggup mengabdi dengan penghasilan yang telah ditetapkan, maka sebaiknya mengundurkan diri.

Menurutnya ada banyak pihak yang siap mengisi posisi tersebut.

“Kalau enggak mau, kalau enggak sanggup mengabdi dengan penghasilan yang tersedia, berhenti saja. Segera minta berhenti. Banyak yang siap gantikan, Saudara-saudara. Saya percaya, banyak yang siap gantikan,” tegas dia.

Persoalan tantiem petinggi BUMN memang sudah menjadi sorotan Prabowo sejak tahun lalu.

Tantiem biasanya diberikan kepada direksi dan komisaris BUMN jika perusahaan mencatatkan laba, atau jika kinerjanya meningkat meski masih merugi.

Ketentuan tantiem itu sempat tertuang dalam Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-02/MBU/2009.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengungkapkan, kebijakan tantiem itu seringkali membuat banyak perusahaan pelat merah memoles laporan keuangan (lapkeu) agar terlihat berkinerja baik.

Tindakan tersebut bahkan seringkali melibatkan komisaris BUMN, yang seharusnya mereka menjalankan fungsi pengawasan.

“Yang kami lihat dulu-dulu komisaris ikut mendorong supaya profitnya tinggi, tapi dengan cara istilahnya itu mempercatik buku. Laporan keuangannya dibedakin supaya lebih cantik, malah kadang-kadang berani melakukan fraud, pelaporan yang tidak benar,” ungkap Rosan dalam acara HIPMI-Danantara Business Forum 2025 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Senin (20/10/2025).

Upaya mempercantik laporan keuangan juga seringkali dilakukan dengan berhutang agar BUMN tersebut bisa menyetorkan dividen.

Maka dari itu perbaikan tata kelola BUMN sedang diperbaiki Danantara.

Rosan menegaskan, di bawah Danantara, perusahaan pelat merah tidak bisa lagi mempercantik laporan keuangan.

Bahkan, sejumlah BUMN besar akan diperiksa kembali laporan keuangannya oleh Danantara karena terindikasi memberikan laporan tidak sesuai kondisi yang sebenarnya.

“Tahun depan saya akan melakukan koreksi beberapa buku perusahaan BUMN, termasuk yang besar-besar, karena pelaporannya tidak sesuai dan tidak benar. Itu kita ingin lakukan, karena saya bilang di bawah Danantara, di bawah pimpinan saya tidak ada lagi di BUMN yang melakukan hal-hal mempercatik buku,” ucap Rosan. (kompas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Kami | Pedoman Media Ciber | Disclaimer