Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Perlunya Mencegah Kebangkrutan Negara

PERINGATAN sejumlah tokoh nasional tentang perlunya mencegah kebangkrutan negara di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Kamis (16/6), tidak bisa dianggap angin lalu. Kian hari, tanda-tanda bahwa negara ini semakin berada di ambang gagal dan bangkrut semakin terlihat.

Tanda-tandanya banyak sekali. Pertama, pemerintah pusat yang lemah dan tidak mampu dalam mengendalikan pemerintah daerah. Semuanya berjalan sendiri-sendiri.

Kedua, buruknya infrastruktur hampir merata di mana-mana. Sedemikian buruk, menunjukkan jeleknya peranan negara.

Ketiga, meluasnya keganasan korupsi. Yang terakhir terjadi megakorupsi yang diduga sangat kuat digerakkan Nazaruddin, mantan bendahara umum partai yang berkuasa.

Keempat, inilah negara yang memusuhi kejujuran. Betapa celaka karena sikap memusuhi kejujuran itu bahkan disemai di dunia pendidikan.

Kelima, ketidakmangkusan kepemimpinan nasional sehingga nyaris tidak ada masalah bangsa dan negara yang selesai. Sebaliknya, masalah kian menumpuk menggerogoti kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keenam, daya beli rakyat yang semakin merosot. Harga pangan dan harga energi semakin tidak terjangkau rakyat banyak.

Maka, tidak mengherankan jika survei lembaga The Fund for Peace dan majalah Foreign Policy tentang failed state index atau indeks negara gagal pada 2010 menempatkan Indonesia di posisi negara dalam peringatan, atau dekat dengan negara gagal.

Bahkan, sejak 2005 hingga 2010, Indonesia lebih dekat jaraknya dengan posisi 'waspada' negara gagal ketimbang dengan posisi 'bertahan'.
Indonesia bahkan belum masuk di zona negara moderat.

Indeks tersebut memasukkan 177 negara ke dalam empat posisi dari segi dekat jauhnya terhadap kategori negara gagal, yaitu posisi waspada (alert), dalam peringatan (warning), sedang (moderate), dan bertahan (sustainable).

Posisi Indonesia di urutan 61 dari 177 negara di dunia yang disurvei sudah mendekati negara-negara yang masuk kategori gagal seperti Somalia dan Zimbabwe.

Sayangnya, beragam seruan dan peringatan negara gagal itu ditanggapi amat defensif oleh para pemangku kekuasaan di Republik ini. Alih-alih berterima kasih karena diperingatkan, malah ada pejabat yang memberi cap kepada para penyeru penyelamatan bangsa dari kegagalan sebagai 'pengidap mata kalong'.

Bergepok-gepok data, berpuluh-puluh survei, berderet fakta sosial agaknya belum cukup bagi pemerintah untuk terlecut menarik negara ini dari tubir kebangkrutan. Pemimpin di negeri ini belum mampu menjadi lokomotif yang menggerakkan. Celakanya, ketika ada pihak-pihak yang membantu menarik gerbong, para pemimpin malah mencurigai.

Selama para pemangku kekuasaan terus menganggap angin lalu berbagai seruan itu, bukan mustahil negara bangkrut benar-benar menjadi kenyataan.
Lalu, kita pun meratapinya seumur hidup. (MICOM)
OPINI
      Berita Daerah  :